Perjuangan Rahmah tidak mudah. Pemerintah Belanda kala itu melarang segala bentuk kegiatan pendidikan di luar kurikulum mereka. Al-Qur'an dan kitab-kitab Islam disita, dan pengajaran agama dilarang keras. Namun, Rahmah tetap teguh menjalankan misinya, menjadikan pendidikan Islam bagi perempuan sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajah.
Kontribusi di Medan Perjuangan: Membangun Batalyon Marapi
Selain di bidang pendidikan, Rahmah juga aktif dalam perjuangan fisik melawan penjajah. Saat masa pendudukan Jepang, ia berperan dalam menyelamatkan perempuan-perempuan Minangkabau yang diculik. Kontribusi besarnya yang lain adalah pendirian Batalyon Marapi, yang menjadi cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI) di wilayah Ranah Minang.
Dedikasinya yang multidimensi inilah yang menjadi alasan kuat mengapa namanya terus diajukan untuk gelar Pahlawan Nasional. Penantian panjang itu akhirnya berbuah manis di tahun 2025. Penyerahan gelar Pahlawan Nasional diwakili oleh Pimpinan Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang, Fauziah Fauzan El Muhammady, yang menyatakan bahwa Rahmah pantas menyandang gelar tersebut.
"Alhamdulillah kita bersyukur hari ini Bunda Rahmah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto," ungkap Fauziah.
Artikel Terkait
Luna Maya dan Cinta Laura Taklukkan Ayu Ting Ting di Ajang Badminton Sportstive+
Ahli Ungkap Cara Sederhana Tingkatkan Dopamin, dari Makanan hingga Aktivitas Ringan
Dr. Boyke Ingatkan Penurunan Testosteron dan Pentingnya Pola Hidup Sejak Usia 25
Intermittent Fasting untuk Penderita GERD: Bisa Bermanfaat dengan Syarat