Evaluasi Bansos Konvensional: Zulhas Soroti Pentingnya Tingkatkan Produktivitas

- Minggu, 02 November 2025 | 06:36 WIB
Evaluasi Bansos Konvensional: Zulhas Soroti Pentingnya Tingkatkan Produktivitas

Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan atau yang dikenal sebagai Zulhas, mengungkapkan pentingnya evaluasi terhadap model bantuan sosial (bansos) yang ada saat ini. Menurutnya, bentuk bansos konvensional seperti beras dan uang tunai dinilai kurang mendukung peningkatan produktivitas rakyat Indonesia dalam jangka panjang.

Zulhas menegaskan bahwa bantuan sosial tetap memiliki manfaat, namun perlu dikaji ulang format penyalurannya. "Kami bukan tidak setuju bantuan sosial, tentu itu bagus. Tapi kalau bantuan sosial orang susah kasih beras, orang susah kasih uang berpuluh-puluh tahun, saya kira itu kita mesti kaji," ujarnya dalam Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) dan Indonesia Fintech Summit & Expo (IFSE) 2025 di Jakarta Convention Center.

Menteri Koordinator Pangan ini menekankan bahwa kemajuan bangsa sangat bergantung pada produktivitas masyarakat. "Kami meyakini negara itu akan maju, bangsa itu akan maju kalau dia produktif. Tidak mungkin bangsa itu maju kalau tidak produktif rakyatnya," tegas Zulhas.

Zulhas juga membandingkan posisi ekonomi Indonesia dengan negara-negara kawasan. Ia mengungkapkan kekhawatirannya atas ketertinggalan Indonesia meski telah dua dekade reformasi berlalu. Dalam perbandingan historis, ia menyebutkan bahwa pada era 1980-an, GDP Indonesia bahkan lebih tinggi daripada China.

"Tahun 80-an dibanding dengan Tiongkok, GDP kita lebih tinggi. Pada waktu itu kita sudah bisa bikin pesawat terbang, kita sudah punya Krakatau Steel, kita sudah punya PT PAL, kita sudah punya petrokimia, kita punya pabrik pupuk, kita punya satelit Palapa," kenang Zulhas.

Data terbaru menunjukkan Indonesia kini tertinggal dari Malaysia yang memiliki pendapatan per kapita 12 ribu USD dan Thailand hampir 8 ribu USD, sementara Indonesia masih berada di level 4 ribu USD. Zulhas menegaskan bahwa kunci perbedaan ini terletak pada produktivitas masing-masing negara.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar