Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali tertekan. Pada penutupan perdagangan hari ini, rupiah melemah 27 poin ke level Rp17.963 per dolar AS. Tekanan datang dari berbagai arah: kebijakan proteksionisme perdagangan global, memanasnya geopolitik energi, hingga defisit neraca perdagangan dalam negeri.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, sentimen global masih didominasi oleh memanasnya pasar valuta asing akibat pemberlakuan tarif impor baru oleh Presiden AS Donald Trump terhadap 60 negara mitra dagang. Kebijakan itu diiringi lonjakan harga minyak mentah dunia menyusul eskalasi konflik militer di Timur Tengah dan gangguan pasokan di Laut Hitam.
"AS resmi memberlakukan tarif impor baru 10 dan 12,5 terhadap 60 mitra dagang, termasuk Indonesia, usai berakhirnya tarif sementara selama 150 hari. Eskalasi militer juga meningkat setelah Houthi menyerang dua tanker Saudi di Laut Merah yang direspons ancaman Trump terhadap Iran, sementara Kazakhstan memangkas produksi minyak akibat serangan drone Ukraina ke terminal Laut Hitam," jelas Ibrahim, Jumat (24/7/2026).
Pemerintah AS menegaskan penetapan tarif baru itu merupakan instrumen untuk mendorong negara mitra memperketat larangan terhadap produk yang diduga berasal dari praktik kerja paksa.
Ketegangan di sektor energi global semakin diperberat oleh kuatnya perekonomian AS. Data tenaga kerja terbaru menunjukkan klaim pengangguran awal AS secara tak terduga turun ke 187.000, level terendah dalam beberapa dekade. Hal ini mendorong imbal hasil obligasi Treasury tenor 10 tahun ke level tertinggi sejak Januari 2025. Pelaku pasar khawatir Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
"Data pasar tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan ini menambah kekhawatiran bahwa Federal Reserve dapat mempertahankan sikap kebijakan yang restriktif," terang Ibrahim.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah meningkat seiring tingginya kebutuhan impor energi nasional yang melampaui asumsi anggaran negara. Beban fiskal kian berat setelah defisit neraca perdagangan terjadi untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir.
"Secara internal, kebutuhan impor energi RI yang melebihi 1,5 juta barel per hari saat harga minyak di atas target APBN-P sebesar USD83 per barel membuat pemerintah harus menambah kebutuhan dolar AS," katanya.
"Kondisi ini diperparah oleh data BPS yang mencatat defisit neraca perdagangan sebesar USD1,61 miliar pada Mei 2026, mengakhiri surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Defisit terjadi karena ekspor turun 5,73 menjadi USD23,2 miliar, sementara impor melonjak 22,16 menjadi USD24,81 miliar, yang didominasi bahan baku dan barang modal," imbuhnya.
Kenaikan impor bahan baku dan bahan penolong yang mencapai USD17,58 miliar atau tumbuh 25,17 secara tahunan (year on year/YoY), serta impor barang modal sebesar USD5 miliar atau naik 12,7 YoY, berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan dan menekan nilai tukar rupiah pada kuartal III 2026.
Meski dibayangi perlambatan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2026 menjadi 5,4 persen, pemerintah tetap optimistis laju perekonomian akan membaik pada semester berikutnya.
Mempertimbangkan dinamika fiskal dan tingginya volatilitas pasar keuangan global, Ibrahim memperkirakan pergerakan nilai tukar rupiah masih akan berada dalam tren pelemahan pada perdagangan pekan depan.
"Pemerintah optimistis pertumbuhan membaik pada semester II ditopang likuiditas yang memadai dan kebijakan fiskal yang prudent. Namun, untuk perdagangan Senin depan, rupiah diprediksi bergerak fluktuatif dan ditutup melemah di kisaran Rp17.960-Rp18.020 per dolar AS, sedangkan untuk sepekan ke depan diperkirakan berada pada rentang Rp17.880-Rp18.250 per dolar AS," ujar Ibrahim.
Artikel Terkait
Indonesia Kena Tarif Impor AS 10%, Menkeu: Kabar Baik
Purbaya Nilai Tarif Impor AS 10% Lebih Baik dari Skema Sebelumnya
Trump Ancam Serang Iran dan Yaman, Iran Kirim Komandan IRGC ke Houthi
Tarif 10% Berakhir, Trump Berlakukan Bea Masuk Baru terhadap 60 Mitra Dagang