Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terperosok ke level terendah 5.342 poin pada awal Juni 2026. Meski sempat bangkit ke 6.200 pada pertengahan Juni, indeks kembali merosot ke 5.600 pada awal Juli sebelum akhirnya pulih ke 6.340 per Selasa (21/7/2026).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai kejatuhan IHSG lebih dipicu persepsi pasar ketimbang fundamental ekonomi. Salah satu penyebabnya adalah beredarnya rumor tak berdasar, terutama kabar bahwa S&P Global Ratings akan menurunkan peringkat Sovereign Credit Rating Indonesia dari BBB.
"Tadinya kan di awal bulan kalau enggak salah ada isu di capital market, di social media, yang bilang bocoran S&P keluar, Indonesia akan di-downgrade peringkatnya, bahkan bukan outlook-nya, peringkatnya. Itu yang menarik ke bawah pasar saham secara tajam di awal Juli tahun ini," ujarnya dalam konferensi pers APBN Kita, Selasa (21/7/2026).
Kabar itu terbukti tidak benar setelah pada 13 Juli 2026 S&P Global Ratings mempertahankan rating surat utang Indonesia dengan outlook stabil.
Purbaya menuding spekulasi tanpa dasar itu sengaja ditiupkan pihak tertentu melalui informasi tidak valid untuk mengganggu psikologis investor. Menurutnya, keputusan S&P menahan peringkat dan outlook Indonesia menjadi bukti bahwa pengelolaan APBN dan kebijakan ekonomi di bawah Presiden Prabowo Subianto dapat dipercaya.
"Memang banyak permainan rumor yang nggak jelas, yang ditiupkan oleh orang-orang yang kurang bertanggung jawab, ternyata yang S&P keluarnya tetap BBB dan outlook-nya stabil. Artinya, memang mereka melihat apa yang dikerjakan oleh pemerintah di bawah pimpinan Bapak Presiden Prabowo Subianto itu semuanya bergerak ke arah yang benar," katanya.
Ia juga meluruskan narasi keliru soal defisit APBN. Pada kuartal I-2026, defisit APBN tercatat 0,9 persen terhadap PDB. Namun, angka itu kemudian dikalikan empat oleh sebagian pihak sehingga disebut defisit tahunan mencapai 3,6 persen, di atas batas aman.
"Waktu angka triwulan I keluar 0,9 persen, mereka kali empat jadi defisitnya 3,6 persen. Jadi, enggak berkesinambungan, cara hitungan itu salah, cuma ya sudah, itu yang dibeli oleh pasar pada waktu itu," katanya.
Mantan Ketua LPS periode 2020-2025 itu menjelaskan bahwa defisit besar di kuartal I disebabkan tingginya penyerapan anggaran yang secara siklikal rendah pada tahun-tahun sebelumnya. Pemerintah sengaja menerapkan strategi percepatan belanja (front-loading) agar dampak stimulus ekonomi terasa lebih merata sepanjang tahun.
"Walaupun kita sebutkan kenapa itu tinggi waktu itu, karena kita tarik ke depan belanja pemerintah supaya merata sepanjang tahun supaya dampak ke ekonomi lebih bagus, tetap saja orang enggak percaya. Dengan (pengumuman S&P) ini mudah-mudahan mereka makin percaya," katanya.
Artikel Terkait
Purbaya Targetkan Pusat Finansial Internasional Indonesia Beroperasi Tahun Ini
Menkeu Purbaya: Lokasi Pusat Finansial Internasional di Bali Belum Ditentukan
Pemerintah Ubah Skema Subsidi Motor Listrik, Insentif Dialihkan ke Pabrikan Tertentu
Purbaya Sebut Rumor Tak Berdasar Jadi Pemicu Kejatuhan IHSG Awal Juli