Purbaya Sebut Rumor Tak Berdasar Jadi Pemicu Kejatuhan IHSG Awal Juli

- Selasa, 21 Juli 2026 | 17:55 WIB
Purbaya Sebut Rumor Tak Berdasar Jadi Pemicu Kejatuhan IHSG Awal Juli

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat merosot tajam ke level terendah 5.342 poin pada awal Juni 2026. Meski sempat bangkit ke 6.200 pada pertengahan Juni, indeks kembali terperosok ke 5.600 pada awal Juli sebelum akhirnya pulih ke 6.340 per hari ini, Selasa (21/7/2026).

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai kejatuhan IHSG lebih dipicu oleh persepsi pasar ketimbang faktor fundamental. Salah satu penyebabnya adalah beredarnya rumor tak berdasar, terutama kabar bahwa S&P Global Ratings akan menurunkan peringkat Sovereign Credit Rating Indonesia dari BBB.

"Tadinya kan di awal bulan kalau enggak salah ada isu di capital market (pasar modal), di social media, yang bilang bocoran S&P keluar, Indonesia akan di-downgrade peringkatnya, bahkan bukan outlook-nya (diturunkan), (tapi) peringkatnya. Itu yang menarik ke bawah pasar saham secara tajam di awal Juli tahun ini," ujarnya dalam konferensi pers APBN Kita, Selasa (21/7/2026).

Kabar tersebut terbukti tidak benar setelah pada 13 Juli 2026, S&P Global Ratings mempertahankan rating surat utang Indonesia, termasuk outlook-nya tetap stabil.

Purbaya menuding spekulasi tanpa dasar yang berkembang di pasar modal sengaja ditiupkan pihak-pihak tertentu melalui informasi yang tidak valid untuk mengganggu psikologis investor. Dia juga menegaskan, keputusan S&P menahan peringkat dan outlook Indonesia menjadi bukti bahwa pengelolaan APBN dan kebijakan ekonomi di bawah Presiden Prabowo Subianto dapat dipercaya.

"Memang banyak permainan rumor yang nggak jelas, yang ditiupkan oleh orang-orang yang kurang bertanggung jawab, ternyata yang S&P keluarnya tetap BBB dan outlook-nya stabil. Artinya, memang mereka melihat apa yang dikerjakan oleh pemerintah di bawah pimpinan Bapak Presiden Prabowo Subianto itu semuanya bergerak ke arah yang benar," katanya.

Dia juga meluruskan narasi terkait defisit APBN yang keliru. Pada kuartal I-2026, defisit APBN mencapai 0,9 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), yang kemudian dinarasikan bahwa defisit sepanjang tahun akan menjadi 3,6 persen, di atas batas aman.

"Waktu angka triwulan I keluar 0,9 persen, mereka kali empat jadi defisitnya 3,6 persen. Jadi, enggak berkesinambungan, cara hitungan itu salah, cuma ya sudah, itu yang dibeli (dipercaya) oleh pasar pada waktu itu," katanya.

Ketua LPS periode 2020-2025 itu menjelaskan bahwa defisit yang besar pada kuartal I disebabkan oleh tingginya penyerapan anggaran yang secara siklikal rendah pada tahun-tahun sebelumnya. Pemerintah sengaja menerapkan strategi percepatan belanja (front-loading) agar dampak stimulus ekonomi dapat dirasakan lebih merata sepanjang tahun.

"Walaupun kita sebutkan kenapa itu tinggi waktu itu, karena kita tarik ke depan belanja pemerintah supaya merata sepanjang tahun supaya dampak ke ekonomi lebih bagus, tetap saja orang enggak percaya. Dengan (pengumuman S&P) ini mudah-mudahan mereka makin percaya," katanya.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags