Investasi Rp1.010,6 Triliun di Semester I-2026 Serap 1,45 Juta Tenaga Kerja

- Kamis, 16 Juli 2026 | 22:15 WIB
Investasi Rp1.010,6 Triliun di Semester I-2026 Serap 1,45 Juta Tenaga Kerja

Realisasi investasi pada paruh pertama tahun 2026 berhasil membuka lapangan kerja baru bagi 1.448.862 orang di seluruh Indonesia. Angka itu tercatat dalam laporan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang dirilis Kamis (16/7/2026).

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, menyebutkan capaian ini meningkat sekitar 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. "Yang paling penting adalah kita bisa lihat di sini penyerapan tenaga kerjanya itu mencapai 1.448.862 orang atau kurang lebih peningkatan 15 dibandingkan tahun sebelumnya," ujarnya dalam konferensi pers di Istana Negara, Jakarta.

Secara akumulatif, realisasi investasi sepanjang Januari–Juni 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen secara tahunan. Angka tersebut setara dengan 49,5 persen dari total target investasi nasional tahun 2026 yang dipatok sebesar Rp2.041,3 triliun. Kontribusi terbesar berasal dari Penanaman Modal Asing (PMA) yang menembus Rp507,6 triliun (50,2 persen), melampaui Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp502,9 triliun (49,8 persen).

Distribusi investasi terbilang merata secara spasial. Wilayah Jawa menyerap Rp502,8 triliun (tumbuh 7,7 persen), sementara luar Jawa menyerap Rp507,8 triliun (tumbuh 6,7 persen). Berdasarkan provinsi, DKI Jakarta memimpin dengan porsi 17,2 persen, disusul Jawa Barat (Rp138,1 triliun), Jawa Timur (Rp72,7 triliun), Sulawesi Tengah (Rp68,7 triliun), dan Banten (Rp66,3 triliun).

Untuk kategori PMA murni, investor asing lebih banyak melirik wilayah luar Jawa seperti Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Kepulauan Riau karena potensi mineral yang besar. Sementara pada pilar PMDN, DKI Jakarta memimpin dengan realisasi Rp16,5 triliun (21,2 persen), diikuti Jawa Barat, Jawa Timur, Banten, dan Nusa Tenggara Barat.

Hilirisasi Dominasi Luar Jawa

Di tingkat sektor usaha, industri logam dasar serta barang logam bukan mesin mencatat realisasi terbesar senilai Rp150,4 triliun (14,9 persen), disusul sektor jasa lainnya yang didominasi data center sebesar Rp114 triliun (11,3 persen), pertambangan Rp105 triliun, transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi sekitar 10,2 persen, serta perumahan, kawasan industri, dan perkantoran sebesar 8,5 persen.

Rosan menekankan bahwa penyebaran investasi pengolahan bahan baku menunjukkan tren desentralisasi. Dominasi investasi hilirisasi justru terpusat di luar Jawa, mencapai 75,7 persen atau senilai Rp227,3 triliun. "Tapi memang kalau kita lihat sedikit, investasi di bidang hilirisasi ini didominasi justru memang di luar Jawa," kata Rosan.

Untuk pilar hilirisasi domestik, modal yang terserap mencapai Rp87,3 triliun, sementara PMA di sektor hilirisasi mencatat angka jauh lebih tinggi, yaitu Rp212,8 triliun. Wilayah-wilayah seperti Maluku Utara, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi pusat-pusat baru bagi hilirisasi berskala masif.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags