Rupiah Menguat ke Rp18.068 per Dolar AS di Tengah Eskalasi Konflik Iran-AS

- Rabu, 15 Juli 2026 | 16:30 WIB
Rupiah Menguat ke Rp18.068 per Dolar AS di Tengah Eskalasi Konflik Iran-AS

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat 23 poin atau 0,13 persen ke level Rp18.068 per dolar AS pada perdagangan Rabu (15/7/2026). Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat serta data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, salah satu sentimen eksternal berasal dari pemberlakuan kembali blokade angkatan laut AS terhadap semua pelabuhan Iran oleh Presiden Donald Trump. Iran kemudian melancarkan serangan balasan terhadap infrastruktur AS di kawasan tersebut.

"Teheran mengatakan telah kembali menutup selat tersebut setelah permusuhan antara Iran dan AS kembali berkobar pekan lalu, yang semakin memperburuk gencatan senjata yang sudah rapuh yang dicapai pada bulan Juni setelah beberapa bulan pertempuran," tulis Ibrahim dalam risetnya.

Tentara Iran pada Rabu pagi mengaku telah melancarkan serangan drone terhadap posisi AS di pangkalan Azraq, Yordania. Hingga berita ini diturunkan, belum ada komentar langsung dari Pentagon. Korps Garda Revolusi Islam Iran menyebut mereka menargetkan senjata dan fasilitas penyimpanan di Bahrain dan Kuwait. Reuters belum dapat memverifikasi laporan tersebut secara independen.

Eskalasi dalam beberapa hari terakhir meningkatkan keraguan bahwa nota kesepahaman yang ditandatangani bulan lalu akan mengarah pada penghentian permanen perang yang telah melanda negara-negara tetangga Iran.

Dari sisi domestik, data inflasi AS memberikan angin segar. Indeks Harga Konsumen Juni tercatat 3,5 persen secara tahunan, lebih rendah dari perkiraan 3,8 persen dan turun dari 4,2 persen pada bulan sebelumnya. Inflasi inti juga turun dari 2,9 persen menjadi 2,6 persen, di bawah ekspektasi 2,8 persen. Hal ini menjadi indikasi bahwa kenaikan suku bunga agresif oleh The Fed saat ini tidak diperlukan.

Pelaku pasar pun mengurangi taruhan kenaikan suku bunga. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada Juli turun menjadi 16 persen dari 40 persen, sementara peluang kenaikan pada September turun menjadi 60 persen dari 74 persen.

Dari sentimen domestik, meningkatnya kebutuhan pembiayaan utang pemerintah seiring pelebaran defisit APBN 2026 turut mempengaruhi pergerakan rupiah. Kebutuhan penarikan utang baru secara bruto tahun ini diperkirakan mencapai sekitar Rp1.768 triliun. Dalam APBN 2026, defisit dan pembiayaan anggaran ditetapkan sebesar Rp689,15 triliun, terdiri dari pembiayaan utang neto Rp832,21 triliun dan pembiayaan nonutang Rp143,06 triliun.

Berdasarkan outlook pemerintah, defisit APBN 2026 diproyeksikan melebar menjadi Rp734,32 triliun. Sejalan dengan itu, pembiayaan utang neto diperkirakan mencapai Rp868,12 triliun. Pemerintah juga harus membayar pokok utang sekitar Rp900 triliun tahun ini, dengan posisi utang per 31 Desember 2025 sebesar Rp9.638 triliun.

Dengan tambahan pembiayaan utang neto Rp868 triliun dan dampak pelemahan nilai tukar yang diperkirakan menambah utang sekitar Rp100 triliun, posisi utang pemerintah pada akhir 2026 diproyeksikan mencapai sekitar Rp10.600 triliun.

Bank Indonesia melaporkan Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia hingga Mei 2026 tercatat sebesar USD444,4 miliar, tumbuh 2,1 persen secara tahunan. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan April 2026 yang sebesar 2,0 persen. BI menyebut kenaikan terutama ditopang oleh pertumbuhan utang luar negeri sektor publik, termasuk pemerintah dan bank sentral.

BI menilai perkembangan tersebut didorong oleh masuknya dana investor ke Surat Berharga Negara (SBN) internasional, yang mencerminkan kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia. Meski demikian, pemerintah tetap melakukan pembayaran kewajiban utang luar negeri yang jatuh tempo.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp18.060 hingga Rp18.110 per dolar AS.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags