SoftBank Yakin Fusi Nuklir Akan Gantikan Gas Alam untuk Data Center AI pada 2040

- Rabu, 15 Juli 2026 | 04:06 WIB
SoftBank Yakin Fusi Nuklir Akan Gantikan Gas Alam untuk Data Center AI pada 2040

Kebutuhan energi untuk menjalankan pusat data kecerdasan buatan (AI) diprediksi melonjak drastis dalam beberapa tahun ke depan. Saat ini, gas alam masih menjadi andalan utama, tetapi Chairman sekaligus CEO SoftBank Group Corp., Masayoshi Son, meyakini bahwa ketergantungan itu hanya soal waktu. Ia memperkirakan pada 2040, kapasitas data center global bisa mencapai 3 terawatt, dan saat itulah fusi nuklir akan mengambil alih peran gas alam.

"Fusi akan menjadi sumber utama energi baru yang lebih murah, bersih, dan aman di bumi," kata Son dalam acara tahunan SoftBank World di Tokyo, Rabu (15/7). Ia bahkan mempertanyakan langsung ketergantungan pada gas alam saat ini. "Apakah tidak masalah kalau kita terus memakai begitu banyak gas? Saya pikir dalam 15 tahun, fusi akan menggantikan posisinya," lanjutnya.

Trauma Fukushima Jadi Latar Belakang

Son dikenal vokal menentang energi nuklir konvensional (fisi) sejak insiden PLTN Fukushima Daiichi pada 2011. Ia melihat fusi nuklir sebagai alternatif yang lebih aman karena secara teori menghasilkan energi besar dengan emisi karbon rendah, limbah radioaktif jangka panjang yang lebih sedikit, dan tanpa risiko reaksi berantai.

Belakangan, minat investasi terhadap perusahaan pengembang teknologi fusi nuklir terus meningkat. Beberapa perusahaan bahkan sudah beralih dari riset ke pembuatan prototipe. Departemen Energi AS pun menargetkan untuk memperbesar skala teknologi ini pada pertengahan 2030-an. Meski demikian, teknologi ini tetap rumit. Fusi nuklir menjanjikan listrik bersih yang hampir tak terbatas, tetapi baru segelintir negara yang menguasai prinsip dasarnya.

Sebagai perbandingan, gas alam saat ini menyumbang lebih dari seperlima total pembangkitan listrik dunia dan mudah didapat. Namun, meski emisinya lebih rendah dibanding minyak atau batu bara, pembakarannya tetap menghasilkan emisi yang berkontribusi terhadap pemanasan global.

AI Bukan Sekadar "Bubble"

Dalam kesempatan yang sama, Son juga membela besarnya belanja infrastruktur AI yang mencapai ratusan miliar dolar AS. Ia yakin biaya tersebut pada akhirnya akan terbayar. "Mempertanyakan apakah AI itu bubble adalah pertanyaan yang sangat bodoh," ujarnya. Menurutnya, pertanyaan semacam itu muncul dari orang-orang yang belum benar-benar memahami atau memanfaatkan AI secara maksimal.

Son memperingatkan, jika Jepang gagal menangkap potensi besar AI, negara itu berisiko kehilangan peluang menciptakan kekayaan besar, peluang yang sama yang berhasil melahirkan perusahaan raksasa seperti Google, Amazon, dan Meta.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags