Wall Street Menguat Tajam di Tengah Pelemahan Harga Minyak dan Ketegangan Timur Tengah

- Jumat, 10 Juli 2026 | 06:12 WIB
Wall Street Menguat Tajam di Tengah Pelemahan Harga Minyak dan Ketegangan Timur Tengah

Bursa saham Amerika Serikat menguat signifikan pada Kamis (9/7) seiring pelemahan harga minyak yang mengalihkan perhatian investor dari kekhawatiran eskalasi militer di Timur Tengah. Indeks S&P 500 naik 0,81 persen ke 7.543,66, Nasdaq menguat 1,30 persen ke 26.206,89, dan Dow Jones Industrial Average bertambah 0,27 persen menjadi 52.487,41.

Penguatan terjadi meskipun Teheran mengklaim telah menyerang target militer AS di Kuwait, Qatar, dan Bahrain sebagai balasan atas serangan AS terhadap Iran sehari sebelumnya. Namun, investor memilih fokus pada sektor teknologi yang kembali diburu, tercermin dari indeks semikonduktor PHLX yang melonjak 3,06 persen dan memperpanjang kenaikan untuk sesi kedua berturut-turut.

Saham Micron Technology melesat 4,5 persen setelah mengumumkan rencana investasi lebih dari USD 250 miliar di AS hingga 2035 untuk memenuhi lonjakan permintaan chip memori akibat kecerdasan buatan. Saham Applied Materials naik 3,2 persen, sementara Sandisk melonjak 7,6 persen. Saham Meta Platforms juga menguat setelah Reuters melaporkan perusahaan itu berencana memproduksi chip AI pada September.

“Pasar bullish AI masih sangat kuat. Sempat terlihat mulai meluas, tetapi itu bergantung pada harga minyak dan suku bunga yang tetap stabil. Dengan kembali memanasnya situasi di Timur Tengah, bagian dari pasar bullish tersebut kini kembali dipertanyakan,” ujar analis strategi investasi Baird, Ross Mayfield.

Tujuh dari 11 sektor dalam S&P 500 mencatat kenaikan, dipimpin sektor teknologi informasi yang naik 1,65 persen, disusul sektor barang konsumsi diskresioner yang menguat 1,46 persen. Berkat penguatan ini, S&P 500 telah naik sekitar 10 persen sepanjang 2026 dan hanya terpaut kurang dari 1 persen dari rekor penutupan tertinggi pada 2 Juni.

Musim laporan keuangan kuartalan akan segera dimulai. Analis memperkirakan laba emiten S&P 500 tumbuh rata-rata 24 persen secara tahunan, dengan perusahaan teknologi sebagai kontributor utama. Valuasi S&P 500 saat ini sekitar 20 kali proyeksi laba, turun dari 21 kali sebulan lalu.

Data ekonomi menunjukkan jumlah warga AS yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran turun pekan lalu, mengindikasikan pasar tenaga kerja tetap solid meski pertumbuhan lapangan kerja melambat pada Juni. Sementara itu, Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan dalam rapat Juni di bawah pimpinan Ketua baru Kevin Warsh. Risalah rapat yang dirilis Rabu (8/7) mengungkapkan beberapa pejabat sempat mempertimbangkan kenaikan suku bunga sebelum akhirnya sepakat mempertahankannya. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang besar kenaikan suku bunga 25 basis poin pada Desember.

Di sisi lain, saham PepsiCo turun 3,3 persen meski pendapatan kuartal II di atas ekspektasi. Saham Costco Wholesale merosot 4,2 persen ke level terendah enam bulan setelah melaporkan perlambatan pertumbuhan penjualan toko sejenis pada Juni. Jumlah saham yang naik di S&P 500 lebih banyak dibandingkan yang turun dengan rasio 1,5 banding 1. Volume perdagangan relatif tipis, dengan total 14,7 miliar saham berpindah tangan, lebih rendah dari rata-rata 22,9 miliar saham selama 20 sesi sebelumnya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags