Harga emas dunia menguat mendekati USD 4.200 per troy ons setelah para pelaku pasar menurunkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Logam mulia ini bahkan disebut bersiap mencatat kenaikan mingguan pertama sejak Mei.
Berdasarkan data Bloomberg pada Minggu (5/7), harga emas spot naik 1,3 persen menjadi USD 4.176,94 per troy ons pada Jumat (3/7). Secara mingguan, harga emas telah menguat 2,2 persen.
Peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada rapat The Fed berikutnya kini kurang dari 20 persen, turun dari sekitar sepertiga pada awal pekan ini. Penurunan ekspektasi ini mendorong para trader menutup posisi jual emas yang sebelumnya dibuka dan mengurangi tekanan untuk melepas posisi beli.
Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, mengatakan bahwa kondisi itu menjadi salah satu faktor di balik reli harga emas dalam beberapa hari terakhir. Meski demikian, ia belum bisa memastikan harga emas akan mencapai target USD 5.300 per troy ons hingga tahun depan karena tekanan inflasi diperkirakan masih bertahan.
“Kami memperkirakan harga emas hanya akan naik hingga menyentuh level resistensi di USD 4.280 per troy ons,” ujar Melek.
Di sisi lain, data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang lebih lemah serta penurunan harga energi turut mendorong investor mengurangi taruhan terhadap pengetatan kebijakan moneter. Data yang dirilis Kamis (2/7) lalu menunjukkan perekrutan tenaga kerja di AS melambat tajam pada Juni, mengindikasikan pasar tenaga kerja masih menghadapi tantangan meskipun sempat menunjukkan tanda-tanda penguatan.
Artikel Terkait
Barclays: Pasar Tunggu Arahan The Fed Usai Komentar Kevin Warsh
Penyerapan Tenaga Kerja AS Melambat Tajam, Sektor Rekreasi Paling Terpukul
Bursa Asia Menguat, Data Tenaga Kerja AS Redam Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
Harga Emas Antam Naik Rp 11.000 per Gram, Buyback Ikut Melonjak