Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat membuka perdagangan awal pekan dengan lonjakan signifikan, menguat 0,32 persen ke posisi Rp17.865 per dolar AS pada Senin (29/6/2026). Penguatan berlanjut hingga menyentuh level Rp17.840 per dolar AS pada sesi pagi, mengabaikan tekanan dari eskalasi militer di Timur Tengah dan ketegangan perang dagang global.
Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, menilai apresiasi rupiah ini menarik karena terjadi di tengah sentimen negatif eksternal. "Pasar keuangan global sedang dihentak oleh eskalasi pertempuran militer antara AS dan Iran, serta memanasnya perang dagang internasional," ujarnya dalam riset.
Menurut Ibrahim, ada tiga faktor domestik utama yang mendorong penguatan rupiah. Pertama, komitmen efisiensi anggaran belanja negara, terutama pemangkasan alokasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun. Pemotongan Rp50 triliun ini dipandang positif sebagai langkah memperkuat kesehatan fiskal di tengah defisit anggaran 2,68 persen.
"Program unggulan MBG disunat anggarannya dari Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun. Ada pemotongan Rp50 triliun untuk memperkuat kondisi keuangan negara," jelas Ibrahim.
Faktor kedua adalah restrukturisasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Kebijakan ini memproyeksikan perampingan dari hampir seribu entitas menjadi sekitar 250 perusahaan inti. Langkah ini dinilai efektif mengurangi kebocoran biaya operasional yang membebani APBN.
"Pemangkasan ini bertujuan mengurangi biaya anggaran yang besar tiap PBN. Ini akan mempengaruhi deposit anggaran mendekati 2,68 persen. Pemerintah benar-benar serius bahwa deposit APBN harus mendekati angka tersebut," kata Ibrahim.
Penopang ketiga adalah keputusan pemerintah menolak tawaran dana darurat dari Dana Moneter Internasional (IMF) senilai 30 miliar dolar AS atau sekitar Rp537 triliun. Penolakan ini menjadi sinyal kepercayaan diri pasar terhadap fundamental ekonomi domestik, yang tercermin dari pertumbuhan ekonomi 5,61 persen pada kuartal pertama.
"Kalau kita fokuskan di Rp17.900, pemerintah menolak IMF merupakan sentimen positif bagi rupiah yang menguat cukup tajam. Tiga faktor inilah yang membuat rupiah menguat walau indeks harga saham gabungan dibuka melemah," pungkas Ibrahim.
Artikel Terkait
Pemerintah Pangkas Harga Gas Industri Jadi USD 13 per MMBTU
IHSG Anjlok 0,97 Persen ke 5.838, Rupiah Menguat ke Rp 17.859 per Dolar AS
Pemerintah Siapkan Program E20, Butuh 4 Juta KL Etanol per Tahun
Kimia Farma Perkuat Bisnis Hulu-Hilir Sambil Selesaikan Beban Masa Lalu