Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup tertekan signifikan dengan koreksi mencapai 4,52 persen ke level 5.342, masih dibayangi dominasi aksi jual yang membuat celah atau gap indeks telah tertutup sepenuhnya. Kondisi ini menunjukkan tekanan berlanjut di pasar modal, di mana para pelaku pasar masih mencermati pergerakan selanjutnya.
Berdasarkan riset MNC Sekuritas yang dirilis pada Selasa (9/6/2026), IHSG saat ini berada pada bagian dari wave (v) dari wave [v] dalam struktur wave 5. Analis memperkirakan indeks berpotensi melanjutkan koreksi menuju area 5.184 hingga 5.282 sebagai level support berikutnya. Adapun support teknis berada di level 5.261 dan 5.191, sementara resistance terletak pada 5.462 dan 5.594.
Di tengah pelemahan pasar, sejumlah saham justru dinilai menarik untuk dicermati dengan strategi akumulasi. MNC Sekuritas merekomendasikan pendekatan buy on weakness untuk beberapa emiten, termasuk PT Astra International Tbk (ASII). Saham ASII terkoreksi 4,60 persen ke Rp4.360 dan masih didominasi tekanan jual. Posisi saham ini diperkirakan berada pada bagian dari wave (iii) dari wave [c] dalam struktur wave 3. Rentang harga akumulasi direkomendasikan di Rp4.260 hingga Rp4.360, dengan target harga jangka pendek di Rp4.690 dan Rp4.960, serta level stoploss di bawah Rp4.180.
Sementara itu, PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) juga masuk dalam daftar rekomendasi. Saham BULL terkoreksi 8,72 persen ke Rp272, masih dibayangi tekanan jual yang dominan. Pergerakan saham ini diperkirakan sedang membentuk bagian dari wave (5) dari wave [C]. Area akumulasi berada di rentang Rp220 hingga Rp252, dengan target harga Rp312 dan Rp368, serta stoploss di bawah Rp200.
Di sisi lain, PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (JPFA) turut direkomendasikan. Saham JPFA terkoreksi 8,01 persen ke Rp1.780 dan masih didominasi tekanan jual. Posisi saham ini diperkirakan berada pada bagian dari wave 3 dari wave (C). Rentang akumulasi yang disarankan adalah Rp1.660 hingga Rp1.725, dengan target harga Rp1.895 dan Rp2.160, serta stoploss di bawah Rp1.620.
Berbeda dengan tiga saham sebelumnya, PT PAM Mineral Tbk (NICL) justru mencatat penguatan 4,80 persen ke Rp480, disertai munculnya volume pembelian. Pergerakan NICL diperkirakan berada pada bagian dari wave 5 dari wave (C). Meski demikian, strategi buy on weakness tetap direkomendasikan pada rentang harga Rp346 hingga Rp440, dengan target harga Rp525 dan Rp630, serta stoploss di bawah Rp326.
Artikel Terkait
George Imron Hendrata Resmi Ditunjuk sebagai Komisaris Utama Blibli, Perkuat Integrasi Omnichannel
Harga Emas Stabil di Tengah Prospek Gencatan Senjata Iran-Israel dan Tekanan Suku Bunga AS
Prospek Industri Rumah Sakit 2026 Cerah, Bahana Sekuritas Naikkan Rekomendasi ke Overweight
Wall Street Mixed: Nasdaq Rebound Dipimpin Saham Teknologi dan Chip, Dow Justru Melemah