Pasar keuangan bergerak cepat pagi ini. Harga minyak dunia tiba-tiba terjun bebas, sementara saham dan obligasi justru menguat. Pemicunya? Sebuah kesepakatan gencatan senjata dua pekan di Timur Tengah yang langsung disambut hangat oleh para pelaku pasar. Mereka melihat secercah harapan untuk pemulihan pasokan energi global yang lebih stabil.
Menurut sejumlah laporan, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Washington sepakat untuk menangguhkan pemboman dan serangan terhadap Iran selama dua pekan. Langkah ini, katanya, adalah upaya untuk mendorong tercapainya perjanjian damai yang lebih permanen. Kabar ini langsung tersebar lewat akun Truth Social-nya.
“Langkah ini membuka jalan bagi kembalinya ekspor minyak dan gas dari kawasan Teluk,” begitu analis awal yang beredar.
Di sisi lain, respons dari pihak-pihak terkait mulai berdatangan. CNN International melaporkan Israel telah menyetujui gencatan senjata yang diumumkan Trump itu. Laporan ini mengutip seorang pejabat Gedung Putih yang enggan disebutkan namanya.
Sementara itu, dari pihak Iran, ada sinyal yang cukup menarik. The New York Times menyebut Iran menerima proposal gencatan senjata dua pekan yang diajukan oleh Pakistan. Rupanya, proposal ini sudah dapat lampu hijau dari pemimpin tertinggi baru Iran.
Media pemerintah Iran, seperti dikutip Reuters, memberikan detail lebih lanjut. Dewan Keamanan Tertinggi Iran mengatakan mereka telah menyampaikan proposal 10 poin kepada Amerika Serikat melalui Pakistan. Nah, pembicaraan lanjutan antara Iran dan AS rencananya bakal digelar di Islamabad.
Jadwalnya? Konon mulai 10 April nanti.
Tapi jangan salah, Iran tampaknya tetap bersikap hati-hati. Mereka menegaskan bahwa dialog dengan AS sama sekali tidak berarti perang sudah berakhir. Pihak Iran baru akan menyetujui penutupan konflik setelah semua detail dalam rencana 10 poin itu tuntas dibahas. Jadi, masih panjang jalan menuju perdamaian.
Dampaknya di pasar langsung terasa. Harga minyak mentah WTI untuk pengiriman Mei anjlok tajam, 10,66 persen, menjadi USD100,90 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka S&P 500 melonjak 1,6 persen. Dolar AS melemah secara luas, dan obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga naik tanda bahwa minat terhadap aset aman masih ada, meski sentimen risiko membaik.
Futures pasar saham Asia pun menunjukkan potensi penguatan. Ini adalah angin segar setelah sebelumnya tertekan berat oleh perang dan lonjakan harga energi yang mencekik.
Sebelum kabar gencatan senjata ini muncul, kondisi pasar minyak sebenarnya masih bergejolak. Pada penutupan perdagangan Selasa, harga Brent sempat turun 0,5 persen ke USD109,27 per barel. Kekhawatiran utamanya ya itu tadi: harga energi yang tinggi bisa membunuh pertumbuhan ekonomi. Sementara WTI justru naik 0,5 persen ke USD112,95, bahkan mencatat level tertinggi sejak pertengahan 2022.
Kekhawatiran para petinggi lembaga keuangan dunia pun belum sepenuhnya sirna. Presiden Bank Dunia, Ajay Banga, sudah memperingatkan bahwa perang ini berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi global sekaligus mendorong inflasi lebih tinggi. Situasi yang benar-benar dilematis.
Peringatan serupa datang dari Presiden Federal Reserve Chicago, Austan Goolsbee. Dia menyatakan konflik semacam ini sangat berisiko memicu inflasi dan memperlambat ekonomi. Kalau sudah begini, bank sentral jadi benar-benar kesulitan untuk menentukan arah kebijakan moneter mereka.
Jadi, di mana posisi kita sekarang? Kesepakatan gencatan senjata sementara ini jelas jadi katalis utama. Pasar bergerak cepat merespons secercah harapan. Tapi semua mata sekarang tertuju pada meja perundingan di Islamabad. Apakah perundingan damai bisa berlanjut? Dan yang paling penting, apakah stabilitas pasokan energi global benar-benar bisa pulih? Itulah pertanyaan besar yang masih menggantung.
Artikel Terkait
Pemerintah Tegaskan Sistem Tol Tanpa Palang Masih Tahap Uji Fungsi Dasar
Pabrik Baru PT Mulia Boga Raya (KEJU) Ditargetkan Beroperasi Juli 2026
Laba Bersih DADA Melonjak Tiga Kali Lipat Meski Arus Kas Operasi Negatif
WMUU Bakal Rights Issue Rp600 Miliar, Harga Penawaran Lebih Tinggi dari Pasar