Dolar AS Menguat ke Level Tertinggi, Didorong Ketegangan Timur Tengah

- Selasa, 31 Maret 2026 | 10:25 WIB
Dolar AS Menguat ke Level Tertinggi, Didorong Ketegangan Timur Tengah

Iran sendiri membalas dengan menyebut proposal perdamaian dari Washington tidak realistis. Belum selesai di situ, laporan dari Kuwait menambah daftar kekhawatiran. Menurut kantor berita KUNA, sebuah kapal tanker minyak Kuwait yang penuh muatan diserang oleh Iran saat berlabuh di Dubai. Kabar ini langsung mendorong harga minyak melonjak lebih tinggi.

Sementara badai geopolitik berlangsung, dari sisi kebijakan moneter justru ada sinyal yang lebih tenang. Ketua The Fed, Jerome Powell, berusaha meredam spekulasi.

Pernyataan Powell itu langsung berdampak. Imbal hasil obligasi jangka pendek AS turun, dan harapan pasar untuk kenaikan suku bunga tahun ini pun menguap. Namun anehnya, semua itu tak banyak melemahkan dolar. Kenapa? Rupanya, dalam kondisi ketidakpastian global seperti sekarang, dolar tetap menjadi pelarian favorit. Investor beramai-ramai mencari aset aman, dan dolar AS lah yang kebagian jatah terbesar.

Namun begitu, aset safe haven lain justru tak seberuntung dolar. Obligasi dan emas, misalnya, kinerjanya buruk sejak perang pecah. Franc Swiss juga kehilangan daya tarik. Ancaman bank sentral Swiss untuk membendengi penguatan mata uangnya membuat investor enggan menjadikannya lindung nilai.

Jadi, ceritanya sekarang sederhana: di tengah peperangan dan ketakutan akan resesi, dolar AS masih jadi raja. Yang lain? Terpaksa gigit jari.

Editor: Redaksi MuriaNetwork


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar