Iran sendiri membalas dengan menyebut proposal perdamaian dari Washington tidak realistis. Belum selesai di situ, laporan dari Kuwait menambah daftar kekhawatiran. Menurut kantor berita KUNA, sebuah kapal tanker minyak Kuwait yang penuh muatan diserang oleh Iran saat berlabuh di Dubai. Kabar ini langsung mendorong harga minyak melonjak lebih tinggi.
Sementara badai geopolitik berlangsung, dari sisi kebijakan moneter justru ada sinyal yang lebih tenang. Ketua The Fed, Jerome Powell, berusaha meredam spekulasi.
Pernyataan Powell itu langsung berdampak. Imbal hasil obligasi jangka pendek AS turun, dan harapan pasar untuk kenaikan suku bunga tahun ini pun menguap. Namun anehnya, semua itu tak banyak melemahkan dolar. Kenapa? Rupanya, dalam kondisi ketidakpastian global seperti sekarang, dolar tetap menjadi pelarian favorit. Investor beramai-ramai mencari aset aman, dan dolar AS lah yang kebagian jatah terbesar.
Namun begitu, aset safe haven lain justru tak seberuntung dolar. Obligasi dan emas, misalnya, kinerjanya buruk sejak perang pecah. Franc Swiss juga kehilangan daya tarik. Ancaman bank sentral Swiss untuk membendengi penguatan mata uangnya membuat investor enggan menjadikannya lindung nilai.
Jadi, ceritanya sekarang sederhana: di tengah peperangan dan ketakutan akan resesi, dolar AS masih jadi raja. Yang lain? Terpaksa gigit jari.
Artikel Terkait
IHSG Berbalik Turun 0,53% di Sesi I, Sektor Industri Anjlok 1,45%
Harga Emas Antam Turun Rp10.000 per Gram, Buyback Anjlok Lebih Dalam
IHSG Dibuka Menguat ke 7.122,99, Sektor Konsumer dan Keuangan Dorong Pasar
Fed Pilih Tunggu dan Lihat Dampak Perang Iran Terhadap Inflasi