Rupiah Tembus Rp17.019, Catat Rekor Terendah Baru Lampaui Krisis 1998

- Senin, 09 Maret 2026 | 10:40 WIB
Rupiah Tembus Rp17.019, Catat Rekor Terendah Baru Lampaui Krisis 1998

Penjelasannya, sentimen dalam negeri lagi tidak bagus. Baru-baru ini, Fitch Ratings menurunkan prospek Indonesia menjadi negatif. Salah satu sorotan utamanya adalah rasio pajak kita yang dinilai rendah dan stagnan selama sepuluh tahun.

Belum lagi, program belanja sosial pemerintah yang masif ikut jadi bahan perhatian. Program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) diprediksi bakal menyedot anggaran besar, sekitar 1,3 persen dari PDB untuk periode 2025-2029. Hal ini bikin pelaku pasar khawatir soal kedisiplinan fiskal jangka panjang.

Dari luar negeri, situasinya juga tidak membantu. Ketegangan geopolitik antara AS, Israel, dan Iran sudah memasuki hari ketujuh dan belum ada tanda-tanda mereda. Eskalasi ini mendorong harga minyak mentah melonjak, yang berisiko memicu gelombang inflasi baru di seluruh dunia.

“Harga minyak yang lebih tinggi cenderung memicu inflasi dan dapat membuat para pembuat kebijakan lebih berhati-hati dalam memangkas suku bunga dalam waktu dekat,” kata Ibrahim.

Akibatnya, investor pun panik. Mereka ramai-ramai berlindung ke aset yang dianggap aman, terutama dolar AS. Aliran modal keluar ini kemudian menekan mata uang negara berkembang, dan rupiah termasuk yang paling merasakan dampaknya. Sepertinya, jalan menuju pemulihan masih akan panjang dan berliku.

Editor: Lia Putri


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar