Pasar modal kita diprediksi masih akan berat bernafas pekan ini, tanggal 9 sampai 13 Maret 2026. Tekanan belum benar-benar reda. Bahkan, analis memproyeksikan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akan terbatas, dengan dukungan di kisaran 7.400 dan penghalang di level 7.900.
Ini bukan tanpa alasan. Pekan sebelumnya, IHSG benar-benar terpuruk dengan kejatuhan hampir 8 persen, berakhir di level 7.585. Aksi jual investor asing pun masif, mencatat arus keluar bersih Rp2,5 triliun di pasar reguler. Situasinya cukup suram.
David Kurniawan, Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, punya pandangannya. Menurut dia, stabilitas sentimen investor lokal sekarang jadi kunci. Apalagi setelah lembaga pemeringkat internasional merevisi prospek utang Indonesia.
"Fokus utama pelaku pasar pada pekan ini kemungkinan masih tertuju pada stabilitas sentimen investor terhadap ekonomi domestik, terutama setelah revisi outlook utang Indonesia oleh Fitch Ratings yang memicu kehati-hatian di pasar," ujar David dalam risetnya, Senin (9/3/2026).
Ya, Fitch Ratings baru saja mengubah outlook Indonesia menjadi Negatif dari yang sebelumnya Stabil. Bagi David, ini seperti alarm peringatan untuk pemerintah soal tata kelola anggaran.
"Perubahan ini menjadi sinyal bahwa pasar global mulai lebih mencermati disiplin fiskal dan arah kebijakan anggaran pemerintah," katanya.
Di sisi lain, kekhawatiran dalam negeri juga muncul. Isu Fiscal Policy at Risk mulai mencuat. Kebijakan ekonomi yang terlihat agresif seperti dorongan kredit dan belanja sosial yang melonjak membuat investor bertanya-tanya: seberapa konsisten disiplin fiskal Indonesia ke depannya?
"Faktor inilah yang mendorong keluarnya dana asing secara masif dari pasar saham dan obligasi dalam beberapa pekan terakhir," jelas David.
Belum lagi konflik geopolitik yang makin panas. Menurut sejumlah laporan, kapal perang Iran ditenggelamkan oleh kapal selam AS di dekat Sri Lanka. Kejadian ini berisiko besar, bisa memutus jalur pelayaran komoditas penting di Selat Hormuz. Jika pasokan energi global terganggu, saham-saham sektor komoditas dan energi justru bisa jadi katalis.
Lalu, bagaimana strategi menghadapi fluktuasi pasar seperti ini? David memberi beberapa rekomendasi trading. Pertama, saham DAAZ dengan target Rp4.200, karena punya rantai nilai mineral yang solid dan tren jangka pendeknya kuat. Kedua, ELSA yang bisa dibeli saat ada penurunan ke area Rp810, dengan target Rp900, mengikuti sentimen harga minyak dunia.
Ketiga, saham SIMP dengan target Rp685, didorong kenaikan harga CPO dan potensi breakout teknis. Selain saham, instrumen Reksa Dana ETF seperti Premier ETF Indonesia Consumer (XIIC) juga dianggap menarik. Produk ini diuntungkan oleh eskalasi konflik di Teluk Persia yang mendorong harga minyak WTI melampaui USD77 per barel.
Artikel Terkait
Hutama Karya Raup Laba Rp464 Miliar di Kuartal I-2026, Tembus 172 Persen Target
PT Sinar Terang Mandiri Tbk Bagikan Dividen Rp60,23 Miliar, Setara Rp14,75 per Saham
Indonet Tunjuk Donauly Elena Situmorang sebagai Direktur Utama, Gantikan Andrew Rigoli
IHSG Anjlok 6,6% dalam Sepekan, Saham Logistik Baru IPO Justru Melonjak 94%