Wall Street Menguat Didorong Kinerja Nvidia dan Kemitraan AI dengan Meta

- Kamis, 19 Februari 2026 | 07:25 WIB
Wall Street Menguat Didorong Kinerja Nvidia dan Kemitraan AI dengan Meta

Wall Street kembali menunjukkan taringnya. Pada Rabu (18/2/2026), bursa saham AS ditutup menguat, didorong oleh performa gemilang dari raksasa chip, Nvidia. Kenaikan ini membawa indeks-indeks utama nyaris menyentuh level tertinggi sepanjang masa.

Indeks S&P 500 bertambah 38 poin, atau 0,6%, ke posisi 6.881,31. Bisa dibilang, ia sudah berada di ambang pintu rekor. Dow Jones juga ikut naik 0,3% ke 49.662,66. Tapi, panggung utama benar-benar milik Nasdaq Composite yang melonjak 0,8% ke level 22.753,63.

Pemicu utama optimisme itu datang dari Meta Platforms. Mereka mengumumkan kemitraan jangka panjang dengan Nvidia, berencana menggunakan jutaan chip untuk membangun pusat data AI mereka. Kabar itu langsung mendongkrak saham Nvidia naik 1,6%.

"Tidak ada yang menandingi skala Meta dalam mengembangkan AI,"

ujar CEO Nvidia, Jensen Huang, dengan nada percaya diri.

Sebagai perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar, gerak-gerik Nvidia memang punya pengaruh luar biasa. Ia menjadi penopang utama kenaikan S&P 500 hari itu. Namun begitu, di balik euforia AI ini, ada juga kegelisahan yang mengendap. Investor mulai mempertanyakan, apakah belanja besar-besaran perusahaan seperti Meta untuk AI ini bakal menghasilkan laba yang sepadan di kemudian hari? Saham Meta sendiri sempat terperosok 1,7% sebelum akhirnya berbalik naik tipis 0,6%.

Di luar hiruk-pikuk sektor teknologi, musim laporan keuangan yang secara umum solid juga memberi angin segar. Lihat saja Cadence Design Systems. Sahamnya melesat 7,6% setelah laba dan pendapatannya mengalahkan prediksi analis.

CEO Cadence, Anirudh Devgan, menegaskan peran penting perangkat lunak teknik perusahaannya.

Analog Devices pun tak kalah. Perusahaan chip itu naik 2,6% usai membukukan kinerja yang melampaui perkiraan, dengan catatan rekor pesanan untuk bisnis pusat datanya. Ada juga Moderna yang melonjak 6,1% setelah FDA bersedia meninjau ulang kandidat vaksin flu mereka. Tapi, tidak semua ceritanya bagus. Palo Alto Networks justru anjlok 6,8% meski laba kuartalannya bagus. Rupanya, proyeksi laba ke depannya dinilai kurang memuaskan pasar.

Pasar obligasi juga bergerak. Imbal hasil obligasi pemerintah AS (UST) tenor 10 tahun naik ke 4,08%, terdorong oleh rilis data ekonomi yang ternyata lebih kuat dari perkiraan. Produksi industri dan pembangunan rumah baru menunjukkan ketahanan ekonomi.

Nah, data-data kuat inilah yang jadi bahan pertimbangan. Risalah rapat terakhir The Fed mengungkapkan, banyak pejabat ingin melihat inflasi turun lebih dalam dulu sebelum mereka setuju untuk memotong suku bunga lagi tahun ini. Dengan kata lain, suku bunga tinggi mungkin akan bertahan lebih lama dari harapan sebagian orang.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar