Analis Prediksi IHSG Masih Volatil Sampai Ada Kepastian Status MSCI

- Senin, 16 Februari 2026 | 06:20 WIB
Analis Prediksi IHSG Masih Volatil Sampai Ada Kepastian Status MSCI

Gerak IHSG pekan ini diprediksi bakal bergerak liar. Penyebabnya? Status Indonesia dalam indeks global MSCI masih menggantung, menciptakan ketidakpastian yang bikin investor was-was. Rully Arya Wisnubroto, Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, bilang penguatan IHSG MSCI yang sempat terjadi belum bisa dianggap sebagai sinyal pemulihan kepercayaan. Buktinya, aksi jual bersih investor asing terhadap saham-saham biru chip macam BBCA masih deras mengalir.

“Untuk saat ini, kami belum melihat tanda-tanda penguatan yang berkelanjutan,” kata Rully dalam risetnya, Minggu (15/2/2026).

Ia menambahkan, meski regulator dan bursa sudah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk memperbaiki citra dan kredibilitas pasar, efeknya belum terasa maksimal. “Kami menilai sebelum MSCI mengumumkan keputusan final terkait status pasar saham Indonesia, risiko volatilitas IHSG masih tinggi dengan potensi berlanjutnya tekanan jual dari investor asing,” tegasnya.

Jadi, ke mana arah pasar? Menurut Rully, semuanya bergantung pada tiga hal: keputusan final MSCI, arus modal asing, dan kebijakan suku bunga The Fed. Tiga faktor ini yang akan jadi penentu arah dalam beberapa waktu ke depan.

Namun begitu, bukan berarti tidak ada secercah harapan. Fundamental dalam negeri masih menunjukkan sisi yang cukup tangguh. Inflasi yang rendah dan stabilitas makroekonomi yang terjaga bisa jadi penopang. Bahkan, potensi pemangkasan suku bunga BI bisa menjadi katalis positif untuk saham-saham yang berorientasi domestik.

“Namun demikian, kami melihat investor akan tetap selektif hingga terdapat kepastian lebih lanjut mengenai status Indonesia dalam klasifikasi pasar MSCI serta arah kebijakan moneter global,” lanjut Rully.

Editor: Bayu Santoso


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar