MURIANETWORK.COM - Nilai tukar rupiah berhasil mencatatkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat dalam perdagangan sepekan terakhir, meski diwarnai tekanan dari data ekonomi global yang beragam dan kekhawatiran akan kondisi fiskal dalam negeri. Berdasarkan data dari Bloomberg dan Bank Indonesia, mata uang domestik menguat sekitar 0,23-0,25 persen secara mingguan, meski sempat mengalami koreksi tipis pada perdagangan Jumat (13 Februari 2026).
Pergerakan Rupiah di Tengah Sentimen Global yang Beragam
Analisis pasar valuta asing menunjukkan bahwa pergerakan rupiah saat ini terjepit di antara dua kekuatan yang saling tarik-menarik. Dari sisi global, sinyal dari perekonomian Amerika Serikat terlihat tidak seragam. Di satu sisi, data penjualan ritel yang melunak pada Desember lalu memberikan sinyal bahwa pengeluaran konsumen mulai mendingin. Namun, di sisi lain, laporan ketenagakerjaan untuk bulan Januari justru menunjukkan ketangguhan yang di luar perkiraan banyak analis.
Angka Nonfarm Payrolls (NFP) melonjak signifikan menjadi 130.000, hampir dua kali lipat dari ekspektasi pasar yang hanya 70.000. Indikator pendukung lainnya, seperti penurunan tingkat pengangguran dan kenaikan pendapatan rata-rata per jam, semakin mengukuhkan gambaran ketatnya pasar tenaga kerja AS, yang pada umumnya dapat memberikan tekanan pada mata uang negara berkembang.
Fokus Beralih ke Kondisi Fiskal Domestik
Sementara sentimen global memberikan warna, perhatian pelaku pasar secara perlahan mulai bergeser ke dalam negeri. Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi, menyoroti kondisi fiskal Indonesia sebagai faktor yang mulai mendapat perhatian serius. Lonjakan belanja negara yang tercantum dalam Rancangan APBN 2026 dinilai dapat memengaruhi persepsi investor terhadap stabilitas ekonomi dan nilai tukar rupiah ke depan.
Ibrahim Assuaibi menjelaskan lebih detail mengenai tekanan yang muncul dari dalam negeri. "Dari dalam negeri, tekanan fiskal Indonesia makin terasa seiring membengkaknya belanja negara dan besarnya kewajiban pembayaran utang pemerintah, di tengah penerimaan yang belum sepenuhnya pasti," ungkapnya pada Jumat (13/2/2026).
Belanja negara yang dipatok sebesar Rp3.842,7 triliun untuk tahun 2026 tersebut, menurutnya, meningkat sangat drastis sekitar Rp391,3 triliun dibandingkan dengan realisasi belanja pada tahun sebelumnya. Peningkatan anggaran yang tajam ini, jika tidak diimbangi dengan penerimaan yang solid, berpotensi menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor.
Proyeksi Pergerakan Rupiah ke Depan
Mempertimbangkan seluruh dinamika yang ada, baik dari luar maupun dalam negeri, diprediksi rupiah masih akan bergerak dalam koridor fluktuasi yang terbatas. Meski mendapat tekanan, daya tuntun dari otoritas dan fundamental ekonomi domestik diperkirakan akan menjaga mata uang nasional agar tidak terdepresiasi terlalu dalam.
Ibrahim Assuaibi memproyeksikan bahwa dalam sepekan ke depan, pergerakan rupiah terhadap dolar AS akan cenderung terbatas, bergerak di kisaran Rp16.770 hingga Rp16.960. Proyeksi ini mencerminkan pandangan bahwa meskipun terdapat tantangan, masih ada ruang bagi rupiah untuk tetap stabil dalam rentang tertentu, dengan pengawasan ketat terhadap perkembangan data ekonomi global dan realisasi anggaran pemerintah.
Artikel Terkait
Analis Proyeksikan Harga Emas Antam Bisa Sentuh Rp 3,15 Juta per Gram
BEI Cabut Status Papan Khusus Saham VISI, Perdagangan Normal Kembali 18 Februari 2026
Metland Smara Hotel Bekasi Rampung, Siap Hadirkan Restoran Rooftop 270 Derajat
Pemerintah Siapkan THR Lebaran 2026 Rp55 Triliun, Cair Awal Puasa