Rapat tahunan pemegang saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. untuk tahun buku 2025 bakal digelar awal Maret 2026. Jadwalnya sudah ditetapkan.
Menurut keterbukaan informasi yang disampaikan ke BEI, Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) BNI itu akan berlangsung Senin, 9 Maret 2026. Waktunya mulai pukul dua siang sampai lima sore, bertempat di Jakarta Pusat.
Yang menarik, rapat ini nantinya tak akan diadakan secara fisik seperti biasa.
“Rapat akan dilaksanakan secara elektronik melalui fasilitas eASY.KSEI,”
Demikian penjelasan manajemen BNI yang dirilis pada Minggu, 15 Februari 2026.
Ada sembilan poin utama yang akan dibahas dalam agenda pertemuan itu. Mulai dari persetujuan laporan tahunan dan pengesahan laporan keuangan konsolidasi untuk tahun 2025, hingga evaluasi tugas dewan komisaris. Tak lupa, laporan keuangan program pendanaan usaha mikro dan kecil (PUMK) juga akan disahkan.
Mata acara pertama ini juga mencakup pemberian pelepasan tanggung jawab penuh kepada direksi dan dewan komisaris untuk segala tindakan pengurusan dan pengawasan selama tahun buku berjalan.
Selanjutnya, rapat akan membahas penggunaan laba bersih perseroan. Poin ketiga agendanya adalah penetapan gaji, honorarium, fasilitas, serta bonus kinerja tahun 2025 untuk jajaran direksi dan dewan komisaris di tahun 2026.
Di sisi lain, BNI juga perlu menetapkan akuntan publik yang akan mengaudit laporan keuangannya untuk tahun buku 2026. Itu jadi agenda keempat.
Lalu, ada pendelegasian wewenang untuk menyetujui Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2026-2030 dan RKAP 2027. Agenda lain yang tak kalah penting adalah rencana pembelian kembali saham atau buyback, serta perubahan anggaran dasar perusahaan.
Agenda kedelapan adalah laporan realisasi penggunaan dana dari penawaran sustainability bond tahap I di 2025. Terakhir, rapat akan menegaskan lagi pelimpahan wewenang RUPS ke Dewan Komisaris terkait perubahan peraturan dana pensiun perseroan.
Lalu, bagaimana kinerja BNI di tahun 2025 yang akan dibahas dalam rapat ini? Bank plat merah ini membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp20,11 triliun. Angka itu memang turun 7,15% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp21,66 triliun.
Namun begitu, dari sisi penyaluran kredit, BNI justru mencatatkan pertumbuhan yang cukup solid. Hingga Desember 2025, kredit yang disalurkan membengkak jadi Rp899,53 triliun, naik 15,94% year-on-year.
Penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) juga melesat. DPK BNI tumbuh 29,21% menjadi Rp1.040,83 triliun. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh simpanan giro yang melonjak 43,75% menjadi Rp439,49 triliun. Deposito dan tabungan juga ikut naik, masing-masing 29,99% dan 11,23%.
Direktur Utama BNI, Putrama Wahju Setyawan, menyebut capaian ini mencerminkan ketahanan model bisnis bank yang ia pimpin.
“Sepanjang 2025 kami menghadapi tekanan eksternal yang tidak ringan, mulai dari volatilitas global hingga penyesuaian suku bunga. Namun BNI mampu menjaga pertumbuhan yang sehat dengan fokus pada pendanaan yang kuat, disiplin risiko, serta ekspansi kredit ke sektor-sektor produktif,”
kata Putrama dalam keterangannya pada Selasa, 3 Februari 2026.
Artikel Terkait
Anggota Komisi III DPR Sanggah Jokowi: Pemerintah Ikut Bahas Revisi UU KPK 2019
Jetour T2 Mulai Dijajal Konsumen, Fokus Beralih ke Layanan Purna Jual
17 Februari 2026 Ditetapkan sebagai Hari Libur Nasional untuk Imlek 2577
Kemnaker Naikkan Uang Saku Peserta Magang Nasional, Ikuti Kenaikan UMP 2026