Ia menambahkan, upaya ini juga untuk menciptakan nilai tambah dan mendukung penerapan energi rendah karbon pada fasilitas energi strategis.
Jadi, peran Pertamina Geothermal di sini strategis banget. Mereka jadi ujung tombak dalam transisi energi, dengan memanfaatkan panas bumi sebagai sumber bersih yang andal. Integrasi ini juga menunjukkan sinergi keren antar entitas di dalam Pertamina Group sendiri, semua demi agenda dekarbonisasi. Intinya, mereka mau menekan emisi dari pemakaian listrik di terminal.
Di sisi lain, inisiatif Green Terminal Tanjung Sekong ini bisa jadi model percontohan. Nantinya, pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) semacam ini mungkin bisa diterapkan di fasilitas strategis lainnya. PGEO sendiri lewat proyek ini menunjukkan komitmennya untuk mengembangkan panas bumi secara menyeluruh, termasuk lewat inovasi seperti green hydrogen. Semua jalan ini mengarah pada satu tujuan besar: mendukung transisi energi nasional menuju Net Zero Emission di tahun 2060.
Ngomong-ngomong soal Terminal Tanjung Sekong, fasilitas ini bukan terminal sembarangan. Dikelola oleh PT Pertamina Energy Terminal (PET), terminal ini termasuk salah satu yang terbesar di Indonesia untuk LPG. Kapasitas penyimpanannya mencapai 98.000 metrik ton.
Fasilitasnya juga mumpuni, bisa melayani kapal hingga 65.000 DWT. Yang lebih krusial, terminal ini memasok sekitar 35 sampai 40 persen kebutuhan LPG nasional. Perannya vital dalam menjaga stabilitas pasokan energi untuk rumah tangga di seluruh Indonesia. Dengan proyek hijau ini, operasionalnya diharapkan bisa jadi lebih sustainable.
Artikel Terkait
Wall Street Dibayangi Ketegangan Iran, Minyak Melonjak di Atas $115
Pemerintah Targetkan Groundbreaking Rusun Bantaran Rel Senen Mei 2026
Laba Bersih ICBP Melonjak 30% Jadi Rp9,2 Triliun di Tengah Tekanan Biaya
Stok Beras Bulog Tembus Rekor 4,3 Juta Ton, Inflasi Berhasil Dikendalikan