BEI Perketat Aturan Transparansi dan Kepemilikan Saham Respons Tekanan Pasar

- Kamis, 12 Februari 2026 | 13:30 WIB
BEI Perketat Aturan Transparansi dan Kepemilikan Saham Respons Tekanan Pasar

Pasar modal kita lagi gak stabil. Tekanan muncul setelah laporan Morgan Stanley Capital International (MSCI) beredar. Nah, sebagai respons, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) kini sedang fokus melakukan serangkaian pembenahan menyeluruh. Mereka bertekad memperbaiki situasi.

Pejabat Sementara Dirut BEI, Jeffrey Hendrik, punya analogi yang cukup gamblang untuk kondisi ini. Menurutnya, keadaan saat ini mirip seperti pesawat yang mengalami turbulensi.

"Maka kita hanya punya satu pilihan. Dalam kondisi turbulence, terbang lebih rendah bukan pilihan yang tepat. Tetapi dalam kondisi turbulence, pilihan kita hanya terbang lebih tinggi. Dan itu yang sedang kita lakukan,"

Ucap Jeffrey dalam konferensi pers, Kamis (12/2/2026) lalu. Intinya, mundur bukan opsi. Justru ini saatnya untuk menanjak.

Dia melihat momen sulit ini justru jadi peluang emas. Momentum berharga untuk membenahi struktur pasar modal nasional secara signifikan. "Karena kita terbang lebih tinggi, ini adalah momen yang sangat tepat," tegasnya.

"Untuk melakukan pembenahan secara signifikan terhadap pasar kita. Dan itu yang sedang kami lakukan,"

Lalu, langkah konkretnya apa saja? BEI bersama para pemangku kepentingan sudah merancang beberapa hal. Pertama, soal transparansi. Nantinya akan ada kewajiban pengungkapan nama pemegang saham yang kepemilikannya di atas 1 persen. Jadi, lebih terbuka.

Selain itu, klasifikasi data investor bakal diperlebar. Jauh lebih luas. Dari yang cuma 9 tipe, bakal nambah jadi 28 tipe, terutama untuk kategori korporasi dan entitas lain. Ini untuk mendapatkan peta kepemilikan yang lebih detail.

Tak cuma itu. Ada juga aturan baru soal free float minimum. Persyaratannya akan dinaikkan dari 7,5 persen menjadi 15 persen agar saham bisa tetap tercatat di BEI. Tujuannya jelas: memperdalam pasar.

Langkah lain yang sedang disiapkan adalah penerbitan 'shareholder’s concentration list'. Daftar ini nanti bisa diakses publik, sehingga investor tahu saham-saham mana yang kepemilikannya terlalu terkonsentrasi di sedikit pihak. Bisa jadi bahan pertimbangan yang krusial sebelum memutuskan investasi.

Jeffrey menutup dengan nada optimis. Menurutnya, semua upaya perbaikan ini bisa dilakukan karena dukungan dari berbagai pihak sangat kuat saat ini. Dukungan itulah yang memungkinkan pembenahan signifikan benar-benar dijalankan.

(Febrina Ratna Iskana)

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar