Merespons prospek ini, CGS International tak ragu menaikkan target harga saham PGAS menjadi Rp2.250, dari sebelumnya Rp1.850. Rekomendasi mereka dipertahankan pada level "add".
Nah, yang bikin sorotan makin panas adalah siapa saja yang masuk dalam daftar pemegang sahamnya. Ternyata, nama investor legendaris Lo Kheng Hong (LKH) tercatat di posisi 20 besar per 31 Januari 2026. Dia memegang sekitar 210,38 juta saham atau setara 0,87 persen.
Kehadiran LKH di sini menarik. Posisinya berada di tengah-tengah raksasa keuangan global yang juga melirik PGAS. Sebut saja BlackRock (1,05%), Vanguard (1,55%), iShares (1,60%), dan UBS Group (0,84%). Belum lagi nama-nama seperti State Street, Wisdomtree, Artemis, hingga dana pensiun guru California, semuanya tercatat sebagai investor institusi di emiten ini.
Di dalam negeri, tentu saja kepemilikan terbesar masih dipegang PT Pertamina (Persero) dengan 56,96 persen. Disusul BPJS Ketenagakerjaan (4,65%) dan Panin Sekuritas (1,81%).
Masuknya Lo Kheng Hong seorang value investor yang sangat selektif ke dalam jajaran pemegang saham, bersama dengan institusi global, jelas menambah daya tarik. Kehadirannya sering kali dianggap sebagai sinyal kepercayaan terhadap fundamental perusahaan untuk jangka panjang. Dan saat ini, pasar sepertinya sedang menyambut sinyal itu dengan tangan terbuka.
Artikel Terkait
Ketegangan Hormuz dan Ancaman Perang Dorong Harga Minyak Mendekati USD100
Harga Emas Melonjak 2,67% ke Level USD 4.495, Sentimen Analis Berbalik Bullish
Pasar Modal Pekan Pendek, Data AS dan China Jadi Sorotan Utama
Pemerintah Pertimbangkan Pajak Tambahan untuk Produk China di E-commerce Lindungi UMKM