Dalam beberapa pekan terakhir, saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) terus menunjukkan tren positif. Penguatannya bukan tanpa alasan. Prospek kinerja emiten pelat merah ini dinilai bakal makin solid, terutama ketika kita melihat ke tahun 2026.
Di pasar, aksi beli terlihat cukup dominan. Coba lihat datanya: hingga pukul 11.11 WIB, saham PGAS bertengger di level Rp2.240 per unit. Angka itu mencerminkan kenaikan yang cukup tajam, yakni 13,42 persen dalam sebulan dan bahkan melonjak 27,64 persen dalam tiga bulan terakhir. Yang menarik, investor asing tercatat melakukan net buy senilai Rp124,33 miliar hanya dalam kurun satu bulan. Itu bukan angka main-main.
Lalu, apa yang mendasari optimisme ini? Menurut sejumlah analis, tahun 2026 diproyeksikan menjadi momen di mana PGAS menunjukkan kinerja yang lebih kuat. Analis dari CGS International, seperti dikutip Dow Jones Newswires pada 23 Januari 2026, menyampaikan hal itu usai bertemu dengan jajaran manajemen perusahaan.
Manajemen PGAS sendiri cukup optimis. Mereka memproyeksikan peningkatan pendapatan dan margin distribusi gas tahun ini. Pendorong utamanya? Ternyata berasal dari pelanggan non-subsidi, dengan segmen pusat data atau data center sebagai primadona yang permintaannya terus meroket.
Di sisi operasional, target pertumbuhan volume niaga dan transmisi gas ditetapkan sebesar 4 persen. Target ini rencananya akan ditopang oleh pasokan dari wilayah baru dan tentu saja, akuisisi pelanggan. Namun begitu, ada tantangan yang harus diantisipasi, yaitu potensi penurunan pasokan gas pipa. Untuk mengatasinya, perseroan berencana mendatangkan 22 kargo LNG sepanjang tahun, di mana 14 kargo di antaranya sudah diamankan.
Merespons prospek ini, CGS International tak ragu menaikkan target harga saham PGAS menjadi Rp2.250, dari sebelumnya Rp1.850. Rekomendasi mereka dipertahankan pada level "add".
Nah, yang bikin sorotan makin panas adalah siapa saja yang masuk dalam daftar pemegang sahamnya. Ternyata, nama investor legendaris Lo Kheng Hong (LKH) tercatat di posisi 20 besar per 31 Januari 2026. Dia memegang sekitar 210,38 juta saham atau setara 0,87 persen.
Kehadiran LKH di sini menarik. Posisinya berada di tengah-tengah raksasa keuangan global yang juga melirik PGAS. Sebut saja BlackRock (1,05%), Vanguard (1,55%), iShares (1,60%), dan UBS Group (0,84%). Belum lagi nama-nama seperti State Street, Wisdomtree, Artemis, hingga dana pensiun guru California, semuanya tercatat sebagai investor institusi di emiten ini.
Di dalam negeri, tentu saja kepemilikan terbesar masih dipegang PT Pertamina (Persero) dengan 56,96 persen. Disusul BPJS Ketenagakerjaan (4,65%) dan Panin Sekuritas (1,81%).
Masuknya Lo Kheng Hong seorang value investor yang sangat selektif ke dalam jajaran pemegang saham, bersama dengan institusi global, jelas menambah daya tarik. Kehadirannya sering kali dianggap sebagai sinyal kepercayaan terhadap fundamental perusahaan untuk jangka panjang. Dan saat ini, pasar sepertinya sedang menyambut sinyal itu dengan tangan terbuka.
Artikel Terkait
Saham Indospring (INDS) Melonjak 21%, Riwayat Emiten Pegas Kendaraan Kembali Diingat
Nagita Slavina Masuk Sebagai Calon Pengendali Baru PT VISI, Saham Terkoreksi Tajam
Pemerintah Pangkas Kuota Produksi Batu Bara dan Nikel pada 2026
BEI Perketat Aturan Transparansi dan Kepemilikan Saham Respons Tekanan Pasar