Pasar modal kita menutup pekan pertama Februari 2026 dengan suasana yang cukup berwarna. IHSG, barometer utama bursa saham Indonesia, tercatat mengalami penurunan signifikan. Tepatnya, indeks terkoreksi 4,73 persen dan berakhir di level 7.935,260. Padahal pekan lalu, posisinya masih di 8.329,606.
PH Sekretaris Perusahaan BEI, Alit Nityaryana, mengonfirmasi hal ini dalam keterangan resminya.
“Kemudian, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami perubahan pada pekan ini, yaitu sebesar 4,73 persen sehingga ditutup pada level 7.935,260, dari posisi 8.329,606 pada pekan lalu,” ujarnya.
Tak cuma indeks, kapitalisasi pasar alias market cap ikut merosot. Kontraksinya sekitar 4,69 persen, dari Rp15.046 triliun menjadi Rp14.341 triliun. Angka yang tak bisa dibilang kecil.
Namun begitu, ada secercah cahaya di balik awan mendung pekan ini. Meski IHSG tertekan, investor asing justru terpantau melakukan aksi beli bersih yang cukup besar pada penutupan hari Jumat.
“Data perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2–6 Februari 2026 ditutup dengan total nilai beli bersih oleh investor asing pada Jumat sebesar Rp944,31 miliar,” kata Alit.
Sayangnya, sentimen positif itu belum cukup untuk membalikkan tren jual secara akumulatif. Sejak awal tahun, catatan investor asing masih merah: net sell mencapai Rp11,02 triliun. Jadi, aksi beli di akhir pekan itu lebih mirip pelarian singkat atau bargain hunting di tengah tekanan yang terjadi.
Penurunan IHSG ini juga diiringi oleh meredanya aktivitas transaksi. Setelah pekan-pekan yang sibuk, pasar seolah mengambil napas sejenak. Rata-rata frekuensi transaksi harian anjlok 28,62 persen, hanya tersisa 2,725 juta kali. Volume transaksi harian pun menyusut 31,75 persen menjadi 43,203 miliar saham.
Yang paling terasa adalah nilai transaksinya. Rata-rata Nilai Transaksi Harian (RNTH) terjun bebas 43,45 persen, dari Rp43,76 triliun pekan lalu menjadi Rp24,75 triliun di pekan ini. Cukup drastis.
Tapi jangan salah. Meski melandai, angka Rp24,75 triliun itu sebenarnya masih menunjukkan likuiditas yang sehat. Bahkan, untuk ukuran regional, posisi kita masih terbilang tinggi. Pasar tetap bergerak, hanya saja ritmenya melambat.
Aksi beli bersih asing di hari Jumat itu setidaknya memberi sinyal penting. Investor global masih melirik saham-saham unggulan Indonesia, terutama yang berlabel blue chip. Mereka melihat peluang meski IHSG sedang konsolidasi dan bertahan di bawah level psikologis 8.000. Pekan depan? Kita lihat saja apakah sinyal ini akan berlanjut atau justru kembali tenggelam oleh ketidakpastian global.
Artikel Terkait
BPI Danantara dan Pertamina Resmi Bangun Pabrik Bioetanol Terintegrasi di Banyuwangi
Harga Emas Antam Naik Rp30.000 per Gram di Akhir Pekan
IHSG Anjlok 5%, Saham MD Entertainment (FILM) Terpukul Terdalam 55%
Wall Street Menguat di Awal Sesi, Tekanan Sektor Teknologi dan EV Masih Membayangi