MURIANETWORK.COM - Pasar logam mulia diguncang aksi jual besar-besaran pada Kamis (5/2/2026), dengan harga emas dunia terkoreksi dan perak mengalami penurunan yang sangat tajam. Tekanan utama datang dari penguatan dolar Amerika Serikat yang signifikan dan sentimen risk-off yang melanda pasar keuangan global, memicu gelombang likuidasi aset berisiko termasuk komoditas berharga.
Tekanan Dolar dan Likuidasi Pasar
Dalam sesi perdagangan yang penuh gejolak, harga emas spot (XAU/USD) tercatat merosot 3,70 persen ke level USD 4.780,67 per troy ons. Sementara itu, perak mengalami pukulan lebih dalam dengan penurunan mencengangkan sebesar 19,57 persen ke posisi USD 70,93 per troy ons. Pelemahan ini berjalan beriringan dengan penguatan dolar AS ke level tertinggi dalam dua pekan serta tekanan luas di bursa saham utama dunia.
Kondisi pasar yang tegang ini memicu berbagai spekulasi di kalangan analis. Sebagian melihat aksi jual sebagai respons terhadap tekanan likuiditas di portofolio yang lebih luas.
“Sebagian pelaku pasar menghadapi tekanan margin dan mungkin menutup posisi di logam karena kerugian di pasar saham. Secara fundamental, tidak ada yang berubah,” tutur Bob Haberkorn, Senior Market Strategist di RJO Futures.
Volatilitas Tinggi dan Proses Pencarian Dasar
Perdagangan logam mulia memang menunjukkan volatilitas ekstrem dalam beberapa hari terakhir. Setelah sebelumnya mencatat rekor tertinggi, emas dan perak justru mengalami penurunan terdalam dalam beberapa dekade hanya dalam hitungan hari. Keadaan ini menciptakan ketidakpastian yang tinggi mengenai level harga wajar dalam jangka pendek.
Para pengamat pasar menilai bahwa pemulihan stabilitas tidak akan terjadi secara instan. Fase konsolidasi dan pencarian level dasar baru diprediksi masih akan berlanjut.
“Pergerakan seperti itu tidak bisa ‘diperbaiki’ dalam semalam, dan volatilitas masih tinggi. Pasar biasanya membutuhkan waktu untuk mencerna, yang sering kali berujung pada penurunan lanjutan,” jelas Fawad Razaqzada, analis pasar di City Index dan FOREX.com.
Dinamika Geopolitik dan Dampaknya
Di tengah turbulensi pasar, sejumlah perkembangan geopolitik juga menarik perhatian. Rusia dan Ukraina dilaporkan menyepakati pertukaran tawanan skala besar setelah perundingan yang dimediasi AS. Sementara itu, pembicaraan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping disebut berlangsung positif, meski isu sensitif seperti Taiwan tetap menjadi sumber ketegangan. Pasar juga memantau rencana perundingan AS-Iran yang dijadwalkan berlangsung di Oman.
Prospek dan Strategi Pelaku Industri
Melihat hubungan historis antara emas dan perak, analis dari JP Morgan berpendapat kecil kemungkinan kedua logam ini bergerak terpisah sepenuhnya. Namun, mereka mengakui bahwa valuasi perak yang sebelumnya sudah tinggi membuatnya sangat rentan terhadap koreksi tajam ketika sentimen berbalik menjadi hati-hati. Bank tersebut memperkirakan batas bawah jangka pendek perak berada di kisaran USD 75-80, dengan potensi pemulihan menuju USD 90 pada tahun depan.
Volatilitas yang luar biasa ini bahkan mendorong perubahan strategi di tingkat industri. Produsen perhiasan global seperti Pandora disebut mulai beralih ke produk berlapis platinum untuk mengurangi eksposur langsung terhadap fluktuasi harga perak yang sulit diprediksi.
Tekanan jual ternyata tidak hanya menyasar emas dan perak. Logam mulia kelompok platinum juga terimbas, dengan platinum spot turun 7,5 persen ke USD 2.057,86 per ons. Paladium pun ikut melemah dengan penurunan sebesar 5,3 persen ke level USD 1.680,50 per ons, melengkapi gambaran hari yang suram bagi keseluruhan sektor komoditas berharga.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Perintahkan Reformasi Mendesak untuk Pulihkan Kepercayaan Investor di Pasar Modal
BEI Naikkan Batas Minimum Free Float Saham Jadi 15% Mulai 2026
Tingkat Pengangguran Indonesia Turun Jadi 4,74% pada November 2025
Bukit Uluwatu Villa dan Sanurhasta Mitra Bantah Keterkaitan dengan Kasus MPAM