Hujan Imlek: Mitos Keberuntungan atau Kebetulan Alam Semata?

- Minggu, 25 Januari 2026 | 21:15 WIB
Hujan Imlek: Mitos Keberuntungan atau Kebetulan Alam Semata?

Suasana merah dan emas sudah mulai terlihat di berbagai sudut kota. Ya, perayaan Tahun Baru Imlek tinggal sebentar lagi. Momen ini selalu identik dengan tradisi-tradisi ikonik: barongsai yang riuh, makan malam keluarga yang hangat, dan tentu saja, bagi-bagi angpao.

Tapi, ada satu hal lain yang seolah jadi paket lengkap Imlek. Hujan. Rasanya, hampir tak pernah absen. Bagi banyak orang, ini bukan sekadar kebetulan cuaca. Turunnya air dari langit justru disambut dengan sukacita, dianggap sebagai simbol keberuntungan dan pembawa rezeki di tahun yang baru. Bahkan, ada yang meyakini rintik hujan itu adalah jawaban langsung dari doa-doa mereka.

Menariknya, anggapan ini punya akar yang dalam. Budayawan Tionghoa Cirebon, Jeremy Huang Wijaya, menegaskan kaitan itu bukan mitos kosong.

"Imlek adalah masa awal musim tanam. Ketika bibit ditanam membutuhkan hujan untuk menyuburkan tanah. Jika suatu kota ada hujan, maka kota itu dapat banyak rezeki karena (hujan) menyuburkan tanah pertanian," jelas Jeremy.

Pandangan serupa muncul dalam ilmu Feng Shui, di mana elemen air (Shui) sering dikaitkan dengan kekayaan. Jadi, wajar jika hujan dianggap seperti kucuran rezeki dari langit.

Namun begitu, di balik makna spiritualnya, ada penjelasan ilmiah yang cukup gamblang. Menurut BMKG, ada alasan klimatologis yang masuk akal. Imlek, yang mengikuti penanggalan lunisolar, selalu jatuh antara akhir Januari dan pertengahan Februari. Nah, periode Desember hingga Februari itu sendiri adalah puncak musim hujan di banyak wilayah Indonesia, terutama Jawa dan Nusa Tenggara.

Jadi, ya, wajar saja kalau Imlek sering basah oleh hujan. Probabilitasnya memang tinggi. Ini dipicu dinamika atmosfer, di mana Monsun Asia sedang aktif membawa udara basah dan memicu pembentukan awan hujan yang intens. Singkatnya, perayaan itu kebetulan atau mungkin sengaja diatur tepat bertepatan dengan puncak musim basah di Nusantara.

Di sisi lain, persepsi tentang hujan Imlek ini ternyata punya nuansa lokal yang kuat. Tokoh Tionghoa asal Solo, Sumartono Hadinoto, punya pandangan yang menarik.

"Kalau menurut saya, China tidak ada musim penghujan. Di sana kan salju. Di Eropa juga tidak ada penghujan tapi semua bilang kalau Imlek di Indonesia semua hujan. Menurut saya itu adalah kearifan lokal dari sesepuh-sesepuh kita dulu," ungkap Sumartono.

Ia menambahkan, leluhur mengajarkan cara pandang yang positif. Alih-alih mengeluh karena hujan mengganggu acara, masyarakat diajak untuk mensyukurinya sebagai sebuah berkah.

"Orang kalau ada sesuatu yang rasanya tidak membahagiakan ya bagaimana kita mengolahnya itu bisa menjadi sesuatu baik. Jadi sangat sederhana," pungkasnya.

Jadi, apakah hujan saat Imlek sekadar kebetulan alam? Tergantung dari mana Anda melihatnya. Dari kaca mata sains, iya. Tapi bagi yang merayakan, ia telah menjelma menjadi bagian dari tradisi dan harapan sebuah kearifan lokal yang mengubah tetesan air biasa menjadi pertanda baik untuk menyongsong musim semi dan tahun baru.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar