Manajer portofolio di Argent Capital, Jed Ellerbroek, memberikan analisisnya mengenai kondisi ini. Ia mengungkapkan, "Skala pembangunan infrastruktur ini belum pernah terjadi sebelumnya, dan kecepatan adopsi alat AI oleh konsumen maupun bisnis juga belum pernah terjadi sebelumnya. Pasar saham sangat kesulitan menentukan harga saham yang tepat dan seperti apa masa depan nantinya. Pasar tiba-tiba menjadi skeptis dan khawatir."
Merespons ketidakpastian tersebut, tampak pergeseran aliran dana menuju saham-saham dengan valuasi yang dianggap lebih terjangkau. Investor mulai mencari peluang di perusahaan-perusahaan yang sebelumnya tertinggal dalam reli pasar selama beberapa tahun terakhir, menunjukkan dinamika rotasi sektor yang sedang berlangsung.
Penopang Pasar dan Data Ekonomi
Di tengah tekanan luas, pelemahan pada indeks S&P 500 masih terbendung berkat kinerja positif dari saham Eli Lilly. Saham perusahaan farmasi itu melonjak setelah memproyeksikan laba untuk tahun 2026 yang melampaui perkiraan analis Wall Street, memberikan sentimen positif tersendiri.
Di sisi lain, pasar juga memantau perkembangan data ketenagakerjaan. Laporan resmi pemerintah AS untuk bulan Januari sempat tertunda akibat penutupan sebagian pemerintahan. Namun, laporan dari ADP yang dirilis pada hari yang sama menunjukkan pertumbuhan tenaga kerja sektor swasta AS pada Januari berada di bawah ekspektasi. Data tersebut mengungkapkan adanya kehilangan lapangan kerja di sektor-sektor kunci seperti jasa profesional, bisnis, dan manufaktur, yang turut mempengaruhi perhitungan investor.
Artikel Terkait
Ketegangan AS-Iran Picu Aksi Jual dan Pelemahan Pasar Saham Asia
Avatar: Fire and Ash Tembus USD1 Miliar, Jadi Film Ketiga Disney yang Raih Prestasi Serupa di 2025
Analis Prediksi IHSG Masih Berpotensi Koreksi ke Level 6.745
Laba Bersih ABM Investama Anjlok 51% di Tengah Tekanan Harga Batu Bara