Dampaknya, kepemilikan sahamnya pun bertambah. Dari sebelumnya 2.840.417 saham (sekitar 0,0023%), kini naik menjadi 3.140.417 saham atau setara 0,0025% dari total saham beredar. Peningkatannya memang tipis secara persentase, tapi nilai nominalnya signifikan.
Latar belakangnya, kondisi pasar memang sedang tidak karuan. IHSG sempat dihentikan sementara (trading halt) selama dua hari berturut-turut karena koreksi yang dalam, lebih dari 8% pada 27-28 Januari. Saham BBCA ikut terseret. Pada Selasa (27/1), sahamnya turun 1,96% ke Rp7.500. Esoknya, Rabu (28/1), ia terjun lagi 6,33% persis ke level Rp7.025 harga yang dibeli Lianawaty.
Namun begitu, sentimen berbalik dalam dua hari berikutnya. Saham BBCA berhasil rebound. Naik 2,49% ke Rp7.200 pada Kamis, lalu menguat lagi 2,78% ke level Rp7.400 di penutupan Jumat. Sebuah pemulihan yang cukup melegakan.
Aksi beli direktur di saat harga jeblok ini tentu menarik perhatian. Di tengah kepanikan pasar, langkahnya bisa dilihat sebagai sinyal kepercayaan diri terhadap prospek perusahaan ke depan. Atau, ya, sekadar strategi investasi pribadi yang tepat waktu. Wallahu a'lam.
Artikel Terkait
Gangguan Pasokan Timur Tengah Ancam Kerek Harga Aluminium
Pajak Rokok DKI Alokasikan Minimal 50% untuk Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Bapanas Pastikan Stok Daging Nasional Melimpah Jelang Idulfitri
Saham Asia Menguat Didorong AI, Waspada Gejolak Harga Minyak