Indonesia Jadi Magnet Investor Global di Tengah Badai Utang Negara Maju

- Jumat, 30 Januari 2026 | 22:15 WIB
Indonesia Jadi Magnet Investor Global di Tengah Badai Utang Negara Maju

Di tengah kekhawatiran global soal utang negara, Indonesia justru tampil dengan posisi yang relatif lebih aman. Rasio utang terhadap PDB kita masih berkisar di angka 41 persen. Angka itu terbilang rendah, terutama jika dibandingkan dengan sejumlah negara maju yang justru tengah bergulat dengan beban utang yang jauh lebih besar.

Herman Tjahjadi, Chief Investment Officer BRI Manajemen Investasi, membeberkan perbandingannya. Banyak negara, katanya, punya rasio utang di atas 100 persen. Ambil contoh Amerika Serikat, yang utangnya mencapai 125 persen dari PDB. Lalu ada Kanada di 105 persen, Inggris 107 persen, dan yang cukup mencolok adalah Prancis dengan rasio 179 persen.

"Perbedaan kondisi tersebut membuat negara-negara berkembang masih menjadi tujuan bagi investor global yang mulai melakukan rotasi dari negara-negara dengan tingkat utang tinggi, termasuk Amerika Serikat,"

Ujarnya dalam acara Economic Insight 2026 di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, akhir Januari lalu. Pernyataannya ini bukan tanpa alasan. Prancis sendiri mengalami penurunan peringkat kredit tahun lalu, menyusul AS yang lebih dulu di-degrade dua tahun sebelumnya.

Nah, perpindahan minat investor ini ternyata punya korelasi langsung dengan pelemahan indeks dolar AS. Melemahnya mata uang adidaya itu seperti cermin; ia merefleksikan perubahan selera investor global yang pelan-pelan memutar haluan, mengalihkan portofolionya ke pasar-pasar negara berkembang yang dianggap lebih 'sehat'.

Jadi, meski tekanan ekonomi global masih membayangi, emerging market seperti Indonesia dinilai tetap punya daya tarik kuat. Situasinya kontras sekali dibanding negara-negara dengan rasio utang tinggi yang kini kewalahan menghadapi tekanan fiskal dan ancaman penurunan peringkat kredit. Di sisi lain, rasio utang yang rendah kita ini ibarat magnet di tengah badai, tetap menarik perhatian untuk dana-dana yang sedang mencari tempat yang lebih aman.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar