Laporan terbaru Dana Moneter Internasional (IMF) membeberkan peta pertumbuhan ekonomi yang menarik untuk tahun 2026. Menurut proyeksi mereka, negara-negara berkembang, terutama di Asia, bakal melaju kencang. Sementara itu, ekonomi-ekonomi maju justru terlihat akan kehilangan momentum.
India, misalnya, diprediksi akan menjadi yang terdepan. Angka pertumbuhannya mencapai 6,2 persen. Kekuatan utama negeri ini tak lain adalah permintaan dalam negerinya yang solid, ditambah dengan populasi muda yang produktif. Ekspansi di sektor jasa dan manufaktur juga memberi angin segar.
Di sisi lain, Indonesia tak kalah menarik. Negeri ini menempati posisi kedua dengan proyeksi 4,9 persen. Daya beli masyarakat yang tangguh dan stabilitas kondisi makro jadi penopang utama. Bonus demografi, tentu saja, memainkan peran yang sangat krusial.
China, meski menghadapi berbagai tekanan global dan penyesuaian struktural, tetap solid di angka 4,2 persen. Posisinya di peringkat ketiga G20 ini menunjukkan ketahanan ekonominya yang luar biasa.
Selain tiga raksasa Asia itu, ada juga Argentina dan Arab Saudi yang diprediksi tumbuh 4,0 persen. Turki menyusul di belakangnya dengan 3,7 persen masih jauh di atas rata-rata global untuk kelompok G20.
Lalu, bagaimana dengan negara-negara maju? Situasinya agak berbeda. Amerika Serikat dan Australia, misalnya, masing-masing cuma diproyeksikan tumbuh 2,1 persen. Memang, angka ini masih lebih baik ketimbang banyak negara Eropa. Tapi, kalau dibandingkan dengan negara berkembang Asia, ya, mereka jelas tertinggal.
Kalau kita lihat kelompok pertumbuhan menengah, Brasil diperkirakan 1,9 persen. Korea Selatan sedikit di bawahnya, 1,8 persen. Kanada dan Meksiko sama-sama di level 1,5 persen.
Di Eropa, situasinya terasa lebih suram. Uni Eropa secara keseluruhan cuma diproyeksikan tumbuh 1,4 persen. Inggris sedikit lebih rendah, 1,3 persen. Afrika Selatan mencatat 1,2 persen, sementara Rusia nyaris stagnan di angka 1,0 persen.
Yang lebih pelan lagi adalah Jerman dan Prancis, yang masing-masing cuma 0,9 persen. Italia bahkan lebih lemah, cuma 0,8 persen. Angka-angka ini jelas menggambarkan betapa lesunya ekspansi ekonomi di kawasan tersebut.
Dan yang terendah? Itu adalah Jepang. Negeri Matahari Terbit itu cuma diproyeksi tumbuh 0,6 persen pada 2026. Proyeksi ini seperti mengonfirmasi semua tantangan lama yang membelit: populasi yang semakin menua dan permintaan domestik yang lemas.
Jadi, apa yang bisa kita simpulkan? Peta pertumbuhan global tahun 2026 nanti tampaknya masih akan didominasi oleh negara-negara berkembang, khususnya dari Asia. Ketimpangan laju pertumbuhan antara negara maju dan berkembang diprediksi kian melebar. Perlahan tapi pasti, pusat gravitasi ekonomi dunia terus bergeser ke timur.
Artikel Terkait
Wall Street Menguat Didorong Perpanjangan Gencatan Senjata AS-Iran
Konflik Timur Tengah Picu Gejolak Modal, BI Catat Pemulihan di Kuartal II-2026
BI: Ketegangan Timur Tengah Persempit Ruang The Fed Turunkan Suku Bunga
Saham Bank Danamon Melonjak 25 Persen, Manajemen Buka Suara soal Rumor Akuisisi MUFG