Geliat ekspor udang budidaya Indonesia ke pasar Amerika Serikat terus berjalan. Menjaga akses ke pasar yang ketat itu tentu butuh usaha ekstra. Nah, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) rupanya sudah mengantisipasinya. Sepanjang November hingga 9 Januari lalu, mereka telah menerbitkan lebih dari 1.200 dokumen Certificate of Admissible atau CoA. Tujuannya jelas: memastikan produk udang lokal kita tetap bisa mendarat di AS.
Menurut Ishartini, Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan KKP, sertifikat ini bukan sekadar formalitas. Ini adalah syarat mutlak yang berlaku sejak awal tahun 2026. Artinya, semua kiriman udang budidaya yang tiba di AS per 1 Januari harus sudah dilengkapi CoA.
"Udang budidaya Indonesia yang diekspor ke AS semuanya telah memenuhi ketentuan comparability finding yang setara dengan program AS dalam mengurangi by catch mamalia laut sesuai dengan undang-undang mereka MMPA yang menjadi salah satu syarat impor,"
Jelas Ishartini dalam keterangan tertulisnya, Minggu (18/1).
Lalu, udang seperti apa yang wajib punya dokumen ini? Cakupannya ternyata luas. Mulai dari udang hidup, segar, atau yang sudah dibekukan. Termasuk juga olahannya yang kering, asin, diasap, bahkan yang sudah dimasak dalam cangkang. Produk turunan seperti tepung, bubuk, dan pelet dari crustacea pun tak luput dari ketentuan ini.
Di sisi lain, Ishartini membeberkan detail teknisnya. Ada 43 HS Code dari 12 subpos yang kena aturan. Beberapa di antaranya adalah 030617, 030636, 030695, dan 160521. Pokoknya, cukup banyak kode yang harus diperhatikan oleh para eksportir.
Penerbitan ribuan dokumen CoA ini tak hanya berpusat di Jakarta. Tujuh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Badan Mutu KKP yang tersebar dari Surabaya, Semarang, hingga Makassar turun tangan. Mereka yang memproses dan mengeluarkan sertifikat-sertifikat tersebut.
Namun begitu, jangan khawatir. Kapasitas pelayanan ternyata jauh lebih besar.
"Seluruh UPT Badan Mutu yang berjumlah 46 di seluruh Indonesia siap untuk melayani penerbitan CoA,"
tutup Ishartini meyakinkan. Dengan jaringan yang luas itu, harapannya proses ekspor bisa berjalan lancar, tanpa hambatan berarti.
Artikel Terkait
Konflik Timur Tengah Picu Gejolak Modal, BI Catat Pemulihan di Kuartal II-2026
BI: Ketegangan Timur Tengah Persempit Ruang The Fed Turunkan Suku Bunga
Saham Bank Danamon Melonjak 25 Persen, Manajemen Buka Suara soal Rumor Akuisisi MUFG
IHSG Melemah Tipis, Saham COAL Melonjak 34 Persen Pimpin Top Gainers