Tapi ada pengecualian. Dalam kasus tertentu, pemerintah bisa saja masuk ke proyek dengan tingkat pengembalian finansial yang lebih rendah. Syaratnya, dampaknya bagi penciptaan lapangan kerja harus sangat besar.
"Kita punya parameter yang harus dipenuhi. Salah satunya ya lapangan pekerjaan itu sendiri," tuturnya.
Jadi, ketika sebuah perusahaan tekstil tertekan keuangan, pemerintah masih melihat celah untuk menyelamatkannya. Caranya bukan sekadar dengan suntikan dana segar, melainkan melalui restrukturisasi menyeluruh yang disebut turnaround.
"Kita terbuka untuk investasi dengan return mungkin lebih rendah dari parameter, asalkan penciptaan lapangan kerjanya tinggi," kata Rosan menegaskan.
Pendekatannya pun komprehensif. Restrukturisasi yang dimaksud mencakup banyak hal: dari penjaminan pasar, penyiapan offtaker, perbaikan rantai pasok, hingga efisiensi operasional. Pola serupa disebut sudah diterapkan dalam penataan beberapa BUMN sebelumnya.
Artikel Terkait
ICP Anjlok ke USD 61,10, Pasar Minyak Dunia Dibayangi Super Glut
BKPM Prediksi Dominasi PMDN Makin Kuat, Didorong Geliat Danantara
Dana Rp 101 Triliun Danantara untuk BUMN Tekstil Baru, Bisakah Bangkitkan Pasar yang Lesu?
RUPTL 2025-2034 Diuji di PTUN, Serikat Pekerja PLN Soroti Ancaman Kedaulatan Energi