Tapi ada pengecualian. Dalam kasus tertentu, pemerintah bisa saja masuk ke proyek dengan tingkat pengembalian finansial yang lebih rendah. Syaratnya, dampaknya bagi penciptaan lapangan kerja harus sangat besar.
"Kita punya parameter yang harus dipenuhi. Salah satunya ya lapangan pekerjaan itu sendiri," tuturnya.
Jadi, ketika sebuah perusahaan tekstil tertekan keuangan, pemerintah masih melihat celah untuk menyelamatkannya. Caranya bukan sekadar dengan suntikan dana segar, melainkan melalui restrukturisasi menyeluruh yang disebut turnaround.
"Kita terbuka untuk investasi dengan return mungkin lebih rendah dari parameter, asalkan penciptaan lapangan kerjanya tinggi," kata Rosan menegaskan.
Pendekatannya pun komprehensif. Restrukturisasi yang dimaksud mencakup banyak hal: dari penjaminan pasar, penyiapan offtaker, perbaikan rantai pasok, hingga efisiensi operasional. Pola serupa disebut sudah diterapkan dalam penataan beberapa BUMN sebelumnya.
Artikel Terkait
IHSG Anjlok 2,65% Imbas Ketegangan Iran-Israel, Sektor Energi Melonjak
PJHB Ganti Galangan Kapal Ketiga, Beralih ke TSU karena Harga Lebih Kompetitif
Sido Muncul Catat Laba Bersih Rp1,23 Triliun di 2025 Didorong Ekspor yang Melonjak 31%
KISI Challenge Berakhir, BYD Denza D9 dan Hermès Birkin 25 Diberikan ke Pemenang