Pemerintah lewat Kementerian ESDM akhirnya mengambil langkah tegas terkait produksi nikel. Target produksi untuk tahun 2026 dipangkas cukup dalam, menjadi sekitar 250 hingga 260 juta ton. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan target sebelumnya yang mencapai 354 juta ton.
Menurut Dirjen Minerba, Tri Winarno, keputusan ini bukan tanpa alasan. Mereka menyesuaikan dengan kapasitas produksi yang ada dan juga kemampuan smelter. Tapi, ada tujuan lain yang lebih strategis: menjaga stabilitas harga.
"Nikel kita sesuaikan dengan kapasitas produksi dan smelter, kemungkinan sekitar 250-260 juta ton tahun ini. Iyalah (mengerek harga), kan harganya sudah USD18 ribu per ton,"
Ucap Tri saat ditemui di kantornya, Rabu lalu. Dia terlihat optimis kebijakan ini bakal berpengaruh. Sebagai bukti, dia menyebutkan harga nikel yang sempat terpuruk di kisaran USD14.000-14.800 per ton sepanjang 2025, kini sudah merangkak naik ke level USD18.000.
"Sempat turun berapa? USD17.000 ribu, dari berapa rerata harga di tahun 2025? Tahun 2025 itu USD14.000-14.800 per ton paling tinggi,"
katanya lagi, merinci pergerakan harga.
Artikel Terkait
Folago Siapkan Rights Issue Rp3,7 Triliun, Pengendali Siap Tebus dan Jadi Pembeli Siaga
Wall Street Lesu, Saham Keuangan Tertekan Gara-gara Wacana Batas Bunga Kartu Kredit
Ari Askhara Kembali ke Panggung Utama, Kali Ini di Geladak Kapal
Saham Soechi Lines Disetop BEI Usai Guncangan Harga 20 Persen