Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat pada kuartal akhir 2025 ternyata jauh melambat. Angkanya hanya 1,4 persen, sebuah penurunan tajam dari capaian 4,4 persen di kuartal sebelumnya. Menurut Menteri Keuangan Scott Bessent, ada satu biang keladi utama di balik perlambatan ini.
“Penutupan terlama dalam sejarah inilah yang menyebabkan penurunan tajam pada kuartal keempat,” tegas Bessent dalam sebuah wawancara televisi, Minggu (22/2/2026).
Dia meyakini, tanpa gangguan dari penutupan pemerintah itu, pertumbuhan ekonomi AS seharusnya bisa 100 hingga 200 basis poin lebih tinggi. Artinya, performa kuartal lalu bisa jauh lebih baik.
Di sisi lain, Bessent justru memancarkan optimisme untuk masa depan. Dia percaya ekonomi negaranya punya potensi tumbuh setidaknya 3,5 persen pada tahun 2026. Sebuah target yang ambisius, tentu saja.
Kalau kita lihat setahun penuh, catatan 2025 memang tak terlalu gemilang. Ekonomi AS hanya tumbuh 2,2 persen sepanjang tahun itu, sedikit lebih rendah dibanding 2024 yang berada di level 2,4 persen.
Namun begitu, ada angin segar yang mungkin bisa mendongkrak performa. Federal Reserve atau The Fed baru saja memangkas suku bunga tiga kali, masing-masing 25 basis poin. Dampak kebijakan moneter yang lebih longgar ini diperkirakan baru akan benar-benar terasa tahun ini. Jadi, perjalanan menuju target 2026 masih panjang, tapi setidaknya sudah ada sinyal yang mengarah ke sana.
Artikel Terkait
Indonesia Ditunjuk Jadi Wakil Komandan Pasukan Perdamaian Multinasional di Gaza
Ekonomi AS Melambat Tajam ke 1,4% di Kuartal IV-2025, Shutdown Jadi Beban Utama
Meta Siapkan Smartwatch Pertama, Rencana Rilis Akhir 2026
BMKG Peringatkan Cuaca Ekstrem Hingga 26 Februari, Enam Provinsi Berstatus Siaga