Pemerintah punya rencana besar: membangun ekosistem industri semikonduktor di dalam negeri. Guna mewujudkannya, disiapkan dana tak main-main, sekitar 125 juta dolar AS atau setara Rp 2,11 triliun. Angka itu dihitung berdasarkan kurs Rp 16.884 per dolarnya.
Rencananya, proyek strategis ini akan digarap bersama perusahaan teknologi asal Inggris, Arm Ltd. Kerja sama ini diungkapkan langsung oleh Menko Perekonomian Airlangga Hartarto.
"Kemarin Pak Presiden menyiapkan USD 125 juta untuk bekerja sama dengan Arm, Inggris,"
kata Airlangga dalam acara Road to Jakarta Food Security Summit di Menara Kadin, Jakarta, Selasa lalu.
Memang, harus diakui, Indonesia bukan yang pertama. Malaysia sudah lebih dulu melangkah jauh di bidang ini, terutama sejak Fairchild Semiconductor asal Amerika Serikat memindahkan fasilitasnya ke sana. Kita memang agak terlambat.
Tapi, menurut Airlangga, terlambat bukan berarti tak punya peluang. Ia justru optimis. Alasannya sederhana: pangsa pasar kita sangat besar. Coba lihat di sekitar. Setiap rumah bisa punya empat sampai lima perangkat pakai semikonduktor, mulai dari gadget sampai mobil. Potensinya jelas ada.
"Dan Arm dulu membuat roadmap di Malaysia dan mereka siap membantu Indonesia. Makanya ini adalah kesempatan. Ya walaupun kita ketinggalan tidak apa-apa. Ini namanya catching up game. Kita catching up terhadap market yang kita punya besar,"
ujarnya meyakinkan.
Di sisi lain, Indonesia punya modal alam yang tak kalah penting: pasir silika. Ini bahan baku utama untuk membuat chip. Dengan bahan baku di tangan, proses hilirisasi punya pondasi yang kuat untuk dijalankan.
"Jadi sesudah kita kuasai ekosistem perencanaan semikonduktor maka hilirisasi silicon itu bisa jalan. Karena dari silicon bisa lari ke floating glass. Floating glass menjadi solar panel. Solar panel bisa juga ke wafer. Wafer juga ujungnya sudah semikonduktor. Assembling, testing, packaging,"
jelas Airlangga, membeberkan mata rantai industrinya.
Pada akhirnya, Airlangga percaya bahwa industri semikonduktor ini bukan sekadar proyek biasa. Ini adalah salah satu jalan bagi suatu negara untuk melompat keluar dari jebakan status negara berpendapatan menengah. Buktinya sudah terlihat di beberapa tempat.
"Karena industri yang sifatnya inovatif. Inilah yang membedakan Jepang, Korea dan berbagai negara termasuk Malaysia yang mau duluan lepas dari middle income track larinya ke sana (semikonduktor),"
tutupnya. Ambisi itu jelas. Sekarang, tinggal eksekusinya.
Artikel Terkait
Adaro Siapkan Rp5 Triliun untuk Buyback Saham, Tunggu Persetujuan RUPS 2026
YULE Naikkan Dividen ke Rp10 per Saham, Didukung Kinerja Keuangan 2025 yang Kuat
Pertamina Gas Rambah Bisnis Gas Industri dan Hidrogen, Ajukan Persetujuan ke RUPS
Laba Bersih Astra Graphia Melonjak 32%, Dividen Rp325 Miliar Disetujui