Harga emas dunia terus merangkak naik. Pada Selasa (6/1/2026) ini, logam kuning itu kembali menguat, didorong oleh sentimen 'safe-haven' alias pelarian dana ke aset aman. Pemicunya? Ketegangan geopolitik yang memanas setelah Amerika Serikat menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.
Di sisi lain, para pelaku pasar juga sibuk memantau perkembangan dari dalam negeri AS sendiri. Mereka menanti data ketenagakerjaan yang akan dirilis Jumat nanti, mencari petunjuk tentang langkah The Fed ke depan terkait suku bunga.
Faktanya, emas spot tercatat naik 1,02 persen ke level USD 4.494,63 per troy ons. Ini adalah lanjutan dari kenaikan hampir 3 persen sehari sebelumnya. Dengan posisi sekarang, harga emas kian mendekati rekor tertinggi sepanjang masa di angka USD 4.549,71 yang tercapai akhir Desember lalu.
Menurut sejumlah saksi, situasi ini membuat pasar logam mulia tampak lebih waspada.
"Pelaku pasar logam mulia saat ini melihat risiko yang lebih besar dibandingkan investor saham dan obligasi," kata Jim Wyckoff, analis senior Kitco Metals.
Ia menilai operasi militer AS di Venezuela akhir pekan lalu telah memperkuat permintaan aset aman seperti emas dan perak. Maduro sendiri, yang digulingkan itu, telah mengajukan pembelaan tidak bersalah atas dakwaan narkotika di New York.
Perlu diingat, emas sebagai lindung nilai tradisional memang sedang dalam performa gemilang. Sepanjang tahun lalu, harganya melonjak 64,4 persen kinerja terbaik sejak 1979! Momentum itu tampaknya masih berlanjut.
Sementara itu, semua mata tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS Jumat mendatang. Proyeksinya, penambahan lapangan kerja akan sedikit melambat jadi 60.000 di Desember, dari 64.000 bulan sebelumnya. Data ini krusial. Berdasarkan pantauan LSEG, pasar saat ini memprediksi The Fed akan memangkas suku bunga dua kali tahun ini.
Perubahan suku bunga selanjutnya harus dilakukan dengan ‘sangat presisi’ untuk menyeimbangkan risiko pengangguran dan inflasi, ujar Presiden Federal Reserve Richmond, Tom Barkin.
Nah, lingkungan suku bunga rendah biasanya menguntungkan emas, aset yang tak memberikan imbal hasil. Morgan Stanley bahkan punya proyeksi optimis: harga emas bisa melesat hingga USD 4.800 per ons di kuartal IV 2026. Pendorongnya adalah penurunan suku bunga, pergantian pimpinan The Fed, serta aksi beli yang kuat dari bank sentral dan dana investasi.
Tak hanya emas, logam mulia lain juga ikut meroket. Perak spot naik 5,4 persen ke USD 80,68 per ons, meski masih di bawah rekor tertingginya di USD 83,62. Sepanjang 2025, perak benar-benar bersinar dengan kenaikan fantastis 147 persen, ditopang permintaan industri dan investor.
Platinum dan palladium pun tak ketinggalan. Platinum naik 7,2 persen ke USD 2.435,20, sementara palladium menguat 5,9 persen ke level USD 1.821,68 per ons. Pasar tampaknya masih bergejolak, dan aset-aset klasik ini kembali menjadi primadona di tengah ketidakpastian.
Artikel Terkait
Serangan AS ke Iran Picu Kekhawatiran Baru, Harga Minyak Melonjak dan Bursa Asia Tertekan
Harga Emas Anjlok ke Titik Terendah Dua Bulan, Tertekan Konflik Iran-AS dan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed
Reformasi Ekspor Komoditas Dinilai Perkuat Likuiditas Valas, Namun Perbankan Waspadai Risiko Eksekusi
Dow Jones Cetak Rekor Tertinggi Ditopang Sektor Kesehatan dan Konsumen