ujar Jed Ellerbroek, seorang manajer portofolio di Argent Capital, St. Louis.
Namun begitu, situasinya tidak sepenuhnya mulus. Menjelang musim laporan laba kuartal IV, valuasi di Wall Street masih terbilang tinggi. S&P 500 saat ini diperdagangkan sekitar 22 kali estimasi laba. Angka itu memang turun dari 23 di November, tapi tetap berada di atas rata-rata lima tahun indeks yang hanya 19, berdasarkan data LSEG.
Data ekonomi yang dirilis Selasa juga memberi nuansa berbeda. PMI komposit akhir S&P Global turun tipis ke 52.7 pada Desember, dari 53.0 sebelumnya. PMI sektor jasanya pun mengalami penurunan serupa.
Pasar tampaknya lebih fokus pada prospek teknologi ketimbang isu geopolitik atau sinyal ekonomi campuran. Investor seolah mengabaikan keributan setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan AS akhir pekan lalu. Malah, ada perkiraan bahwa langkah itu bisa membuka akses bagi perusahaan AS ke cadangan minyak Venezuela.
Komentar dari pejabat Federal Reserve juga beragam. Presiden Fed Richmond Tom Barkin menekankan sikap hati-hati bank sentral terkait pemotongan suku bunga. Pandangannya agak berbeda dengan Gubernur Stephen Miran yang justru menyerukan pemotongan yang lebih agresif. Wall Street, untuk saat ini, memilih untuk terus berjalan di atas optimisme AI yang sepertinya belum mau padam.
Artikel Terkait
Gubernur Fed Serukan Pemotongan Bunga 150 Bps untuk Dongkrak Lapangan Kerja
Harga Minyak Melonjak 3% Usai Gejolak Venezuela dan Ancaman Pasokan Global
Harga Minyak Melonjak 3% Dihantui Ketegangan di Venezuela hingga Timur Tengah
Pasar Batu Bara Global Terancam Surplus, Harga Diprediksi Terus Melemah