Wall Street kembali menunjukkan kekuatannya. Pada Selasa (6/1) waktu setempat, pasar saham AS ditutup menguat, didorong oleh kenaikan yang cukup tajam di sektor saham chip. Sentimen optimis terkait kecerdasan buatan (AI) menjadi bahan bakar utama rally ini, bahkan mengantar Dow Jones Industrial Average mencetak rekor tertinggi baru.
Indeks S&P 500 bertambah 42.92 poin, atau sekitar 0.61%, menuju level 6,944.97. Sementara itu, Nasdaq Composite naik 147.40 poin (0.63%) ke 23,543.22. Yang paling mencolok, Dow Jones melonjak 489.12 poin atau tepat satu persen, mengukir posisi di 49,466.30. Angka itu membawa Dow semakin dekat dengan ambang psikologis 50,000 – sebuah pencapaian historis yang tinggal selangkah lagi.
Pergerakan pasar tak lepas dari euforia di sektor teknologi. Saham-saham raksasa chip dan penyimpanan data meroket. Nama-nama seperti SanDisk, Western Digital, Seagate, dan Micron Technology sama-sama mencapai level tertinggi baru. Indeks chip PHLX pun tak ketinggalan, mencatat kenaikan fantastis sekitar 8% hanya dalam tiga hari perdagangan pertama di tahun 2026.
Gelombang optimisme ini dipicu oleh pidato Jensen Huang, CEO Nvidia, di Consumer Electronics Show di Las Vegas. Dia memaparkan rencana peluncuran prosesor AI baru, termasuk teknologi penyimpanan yang lebih canggih. Kabar itu langsung disambut hangat oleh para investor.
Di sisi lain, sektor kesehatan juga mendapat angin segar. Saham Moderna melesat setelah analis BofA Global Research menaikkan target harganya, yang turut membantu mengangkat indeks kesehatan S&P 500.
“Saya pikir kita akan memiliki musim laba yang sangat kuat untuk Big Tech, dan semua estimasi belanja modal yang kita dengar kemungkinan akan direvisi lebih tinggi lagi,”
ujar Jed Ellerbroek, seorang manajer portofolio di Argent Capital, St. Louis.
Namun begitu, situasinya tidak sepenuhnya mulus. Menjelang musim laporan laba kuartal IV, valuasi di Wall Street masih terbilang tinggi. S&P 500 saat ini diperdagangkan sekitar 22 kali estimasi laba. Angka itu memang turun dari 23 di November, tapi tetap berada di atas rata-rata lima tahun indeks yang hanya 19, berdasarkan data LSEG.
Data ekonomi yang dirilis Selasa juga memberi nuansa berbeda. PMI komposit akhir S&P Global turun tipis ke 52.7 pada Desember, dari 53.0 sebelumnya. PMI sektor jasanya pun mengalami penurunan serupa.
Pasar tampaknya lebih fokus pada prospek teknologi ketimbang isu geopolitik atau sinyal ekonomi campuran. Investor seolah mengabaikan keributan setelah penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan AS akhir pekan lalu. Malah, ada perkiraan bahwa langkah itu bisa membuka akses bagi perusahaan AS ke cadangan minyak Venezuela.
Komentar dari pejabat Federal Reserve juga beragam. Presiden Fed Richmond Tom Barkin menekankan sikap hati-hati bank sentral terkait pemotongan suku bunga. Pandangannya agak berbeda dengan Gubernur Stephen Miran yang justru menyerukan pemotongan yang lebih agresif. Wall Street, untuk saat ini, memilih untuk terus berjalan di atas optimisme AI yang sepertinya belum mau padam.
Artikel Terkait
Direktur Utama MDTV, Lie Halim, Mundur Jelang Akhir Masa Jabatan
Harga Emas Antam Naik Rp16.000 per Gram, Pesaing Tetap Stabil
IHSG Diproyeksi Bergerak Tak Menentu, Terjepit Sentimen Lokal dan Global
IHSG Melonjak 1,03% di Awal Pekan, Mayoritas Sektor Berada di Zona Hijau