Ia menegaskan, dukungan semua pihak sangat dibutuhkan. Instansi terkait harus gencar melakukan komunikasi dan edukasi ke masyarakat, terutama di titik-titik masuk seperti bandara, pelabuhan, dan pos perbatasan. Tujuannya, agar publik paham betul bahaya ASF.
Lalu, seberapa bahayanya penyakit ini? Demam babi Afrika disebabkan virus ASF yang sangat menular bagi babi liar maupun ternak. Angka kematiannya mengerikan, bisa mencapai 100 persen. Kabar baiknya, virus ini tidak berbahaya bagi manusia. Namun, dampak ekonominya bisa menghancurkan: populasi babi bisa ludes dan peternakan babi kolaps.
Masalahnya, virus ASF terkenal bandel. Ia bisa bertahan lama di lingkungan, menempel di pakaian, sepatu boot, roda kendaraan, atau permukaan barang lainnya. Bahkan pada produk olahan seperti ham, sosis, dan bacon, virus ini masih bisa hidup. Mobilitas manusia dan barang, menurut Sriyanto, jadi faktor kunci penyebarannya.
Itulah mengapa upaya pencegahan masuknya ASF ke Indonesia dinilai krusial. Bukan cuma untuk melindungi peternakan babi dari kerugian finansial besar, tapi juga mencegah ancaman yang lebih luas: kepunahan babi asli Indonesia.
Terakhir, Sriyanto mengimbau partisipasi masyarakat. “Jika menemukan lalu lintas komoditas hewan dan produknya yang dicurigai tidak memenuhi unsur perkarantinaan,” laporkan segera ke petugas karantina terdekat atau melalui WA Center Barantin di 08111920336.
Artikel Terkait
Setelah Mediasi DPR, Mie Sedaap Gresik Janji Hentikan PHK Massal Jelang Ramadan
Analis Sucor: Saham Unggulan Tertekan Jauh di Bawah Nilai Wajar
Analis Proyeksikan IHSG Lanjutkan Penguatan, Waspadai Potensi Koreksi
AMOR Cairkan Dividen Interim Tahap II Rp28,6 Miliar, Yield 3,51%