Namun begitu, optimisme itu tampaknya tidak berlangsung lama. Bagani menambahkan, ada bayangan yang membatasi kenaikan lebih lanjut: ekspektasi bahwa stok minyak sawit Malaysia akan membengkak pada akhir 2025. Faktor ini seperti rem yang mencegah harga melonjak terlalu tinggi.
Pergerakan di pasar komoditas lain pun beragam. Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian cenderung datar, tidak berubah. Sementara itu, kontrak minyak sawit di bursa yang sama justru terperosok 1,14 persen. Di Chicago Board of Trade (CBOT), harga minyak kedelai malah terkoreksi tipis 0,06 persen, padahal sempat menguat di awal sesi.
Memang, hubungan antara minyak sawit dan minyak nabati pesaingnya seperti minyak kedelai sangat erat. Mereka terus berebut pangsa pasar global, jadi pergerakan harganya kerap saling mempengaruhi. Di sisi lain, ringgit yang melemah 0,52 persen terhadap dolar AS menjadi faktor kunci lain yang diincar para trader.
Sementara itu, kondisi pasar secara keseluruhan terlihat campur aduk. Bursa saham Asia menguat, sedangkan harga minyak mentah dunia bergerak fluktuatif. Pelaku pasar tampaknya masih mencerna implikasi dari aksi militer Amerika Serikat di Venezuela. Belum lagi, mereka bersiap menyambut rilis data ekonomi yang padat di pekan perdagangan penuh pertama tahun ini. Semua faktor ini menciptakan suasana yang cukup menegangkan dan tidak pasti.
Artikel Terkait
Pizza Hut Indonesia Dirikan Anak Usaha Baru untuk Bisnis Roti dan Akomodasi
Menhub Prediksi Puncak Mudik Lebaran 2026 pada 18 Maret
Saham PP Properti Melonjak 10% Usai BEI Cabut Suspensi
BEI Bekukan Perdagangan Wanteg Sekuritas Terkait Kondisi Operasional