Prathamesh Mallya dari Angel One bilang, kondisi saat ini memang penuh dengan faktor yang saling tarik-menarik.
Pendapat senada datang dari Anuj Gupta, Direktur Ya Wealth. Menurut dia, serangan AS ke Venezuela itu berpotensi besar memicu ketegangan yang lebih luas.
Emas sendiri sebenarnya lagi dalam momentum yang kuat. Sepanjang 2025 lalu, harganya melonjak hampir 70 persen kenaikan tahunan terkuat sejak 1979. Jadi, situasi Venezuela ini kayak bensin yang ditambahin ke api. Apalagi Venezuela dikenal punya cadangan emas terbesar di Amerika Selatan, sekitar 161 ton dengan nilai hampir 22 miliar dolar AS.
Memasuki awal 2026, emas dan perak sempat bergerak relatif stabil. Mereka melanjutkan tren penguatan tahunan yang fenomenal itu. Tapi sekarang, investor sibuk mengevaluasi lagi, sambil menunggu penyeimbangan ulang indeks acuan komoditas utama yang dijadwalkan berlaku dalam sepekan ke depan. Semuanya jadi nggak pasti, dan justru di situlah peluang atau jebakan biasanya muncul.
Artikel Terkait
Di Balik Panen Raya, Mentan Bongkar Pembersihan 192 Pejabat dan Ribuan Izin Pupuk
Prabowo Sematkan Bintang Jasa Utama untuk Amran di Tengah Pesta Swasembada
Karya Pacific Investama Genjot Kepemilikan di MNC Energy Lewat Tender Sukarela
Arab Saudi Buka Keran Investasi Asing, Pasar Modal Siap Sambut Derasnya Modal Global