Faktanya, Venezuela memang juaranya. Cadangan minyak mentah terbuktinya yang 303 miliar barel itu membuatnya melampaui Arab Saudi. Pada 2023, angka itu mewakili hampir 20 persen cadangan global.
Kalau upaya pemulihan yang dipimpin AS ini berjalan, Venezuela berpotensi bangkit sebagai pemasok minyak utama. Peluang baru tentu terbuka lebar bagi perusahaan-perusahaan energi Barat. Di satu sisi, ini bisa membantu menstabilkan harga minyak dunia. Tapi hati-hati, harga yang terlalu murah justru bisa bikin produksi beberapa perusahaan minyak dalam negeri AS jadi kurang menarik.
Namun begitu, jangan berharap perubahan terjadi dalam sekejap. Meski akses internasional nantinya dibuka penuh, butuh waktu bertahun-tahun dan dana yang tidak sedikit untuk menghidupkan kembali produksi minyak Venezuela.
Keadaannya memang memprihatinkan. Perusahaan minyak negara, PDVSA, mengakui pipa-pipa mereka tidak pernah diperbarui selama setengah abad. Mereka memperkirakan, butuh dana sekitar 58 miliar dolar AS hanya untuk mengembalikan produksi ke level puncaknya dulu.
"Bagi sektor minyak, ini bisa menjadi peristiwa bersejarah," kata Phil Flynn, seorang analis pasar senior di Price Futures Group.
Dia melanjutkan dengan nada keras, "Rezim Maduro dan Hugo Chavez pada dasarnya telah merampok industri minyak Venezuela."
Artikel Terkait
Dari Teras Rumah Hingga Naik Kelas: Kisah AO PNM yang Mengubah Rasa Takut Jadi Kepercayaan
OJK Pacu Digitalisasi BPR dengan Aturan Baru, Perlindungan Nasabah Jadi Prioritas
IHSG Gagal Pertahankan 9.000, Saham Tambang Jadi Penghambat
Soechi Lines Bentuk Lima Anak Usaha, Bidik Pasar Maritim Global