Tekanan itu langsung terasa di bursa. Saham Tesla terpangkas 1% pada perdagangan Jumat, dan secara total melemah sekitar 8% sejak malam Natal. Ini jadi tahun kedua berturut-turut penjualan tahunan mereka menyusut.
Meski demikian, jangan salah. Tesla tetaplah raksasa. Kapitalisasi pasarnya masih sekitar USD 1,4 triliun, membuatnya jadi produsen mobil paling bernilai di dunia. Banyak investor yang masih bertahan, berharap pada proyek masa depan perusahaan: teknologi kendaraan otonom, AI, dan robotika.
Mereka sudah mulai uji coba layanan robotaxi terbatas di Austin, Texas. Tapi persaingan di bidang ini juga semakin panas, terutama dari China. BYD sendiri punya sistem bantuan mengemudi canggih bernama “God’s Eye”, yang sudah dipasang di mobil-mobil listrik harganya terjangkau. Jadi, pertarungannya akan berlanjut.
Di sisi lain, BYD justru mencatat pertumbuhan penjualan mobil listrik murni sebesar 28% sepanjang 2025. Memang ada pelemahan di bulan Desember, tapi secara keseluruhan kinerjanya solid. Perusahaan yang didirikan Wang Chuanfu pada 1995 ini awalnya cuma produsen baterai. Kini, mereka mendominasi.
Totalnya, BYD menjual 4,55 juta kendaraan tahun lalu. Untuk plug-in hybrid, penjualannya turun 8% jadi 2,29 juta unit. Tapi, yang menarik justru di segmen kendaraan komersial. Penjualan bus dan truk listrik mereka melonjak lebih dari dua kali lipat, mencapai 57.000 unit. Mereka tak cuma unggul di mobil penumpang.
Jadi, ini bukan sekadar soal angka. Ini tentang perubahan kekuatan yang nyata. Tesla masih punya cahaya, tapi BYD dan China kini yang memegang kendali di pasar yang paling dinanti itu.
Artikel Terkait
IHSG Melonjak di Awal 2026, Analis Proyeksikan Sentimen Bullish hingga Tembus 10.500
Gejolak Global Tak Kuasa Dongkrak Harga Minyak yang Terpuruk
Banjir Sumut Rugikan Koperasi Rp 37,72 Miliar, Kemenkop Siapkan Restrukturisasi
Operasi AS Guncang Caracas, Maduro Ditangkap dan Dideportasi