Dolar Amerika Serikat bangkit di awal tahun 2026. Pada perdagangan Jumat (3/1), mata uang itu menunjukkan kekuatan, menghentikan tren penurunan yang sempat menggayut sepanjang tahun lalu. Investor, rupanya, sedang menunggu-nunggu. Mereka memandang ke sejumlah data ekonomi kunci yang bakal menentukan arah kebijakan Federal Reserve, dan tentu saja, pasar global.
Pemulihan ini tak datang tiba-tiba. Tahun 2025 lalu, dolar AS mengalami penurunan tahunan paling tajam sejak 2017 lebih dari 9 persen! Penyebabnya beragam, mulai dari penyempitan selisih suku bunga, kekhawatiran soal kesehatan fiskal AS, hingga perang dagang yang belum reda. Belum lagi isu independensi The Fed yang terus mengemuka. Semua risiko itu, sayangnya, masih terbawa hingga tahun ini.
Nah, minggu depan bakal banjir data. Puncaknya adalah laporan penggajian AS di hari Jumat. Data-data inilah yang diharapkan bisa memberi petunjuk soal langkah The Fed selanjutnya, khususnya rencana pemotongan suku bunga. Pasar sendiri sudah memprediksi dua kali pemotongan, lebih agresif dibanding satu kali yang diproyeksikan oleh dewan The Fed yang terpecah belah.
Juan Perez, direktur perdagangan di Monex USA, menyoroti situasi yang agak rumit.
“Ini akan menjadi masa untuk banyak penilaian. Pertemuan The Fed baru ada di akhir bulan, dan konsensus pun belum terbentuk,” ujarnya dari Washington.
“Penutupan pemerintah AS yang baru saja terjadi itu luar biasa lama. Dampaknya, cara pengambilan dan interpretasi data jadi terganggu. Akurasinya pun patut dipertanyakan,” sambung Perez.
Di sisi lain, volume perdagangan Jumat lalu terbilang tipis. Pasarnya sepi, sebagian karena bursa di Jepang dan China sedang libur.
Indeks dolar, alat ukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama, tercatat naik 0,24% ke level 98,48. Euro melemah 0,25% menjadi USD 1,1716. Padahal, mata uang tunggal Eropa itu tahun lalu melonjak lebih dari 13%, rekor kenaikan terbesar sejak 2017. Kini, aktivitas manufaktur zona euro yang melorot ke level terendah 9 bulan ikut membebani.
Poundsterling juga ikut-ikutan melemah, turun 0,18% ke USD 1,3445. Padahal tahun 2025, ia mencetak kenaikan 7,7% lonjakan terbesar dalam delapan tahun terakhir.
Selain data, ada satu hal lain yang bakal disorot tajam: kepemimpinan The Fed. Masa jabatan ketua sekarang, Jerome Powell, berakhir Mei mendatang. Presiden Donald Trump sudah bilang akan memilih penggantinya bulan ini. Banyak pelaku pasar menduga, pilihan Trump akan lebih mendorong pemotongan suku bunga. Soalnya, Trump sendiri kerap mengkritik Powell karena dianggap terlalu pelit memotong biaya pinjaman.
“Kami memperkirakan kekhawatiran soal independensi bank sentral ini akan berlanjut sampai 2026,” tulis para ahli strategi Goldman Sachs dalam sebuah catatan klien. “Perubahan kepemimpinan yang akan datang adalah salah satu alasan mengapa perkiraan kami untuk suku bunga cenderung lebih dovish.”
Mereka, seperti kebanyakan pedagang, sepenuhnya mengharapkan dua kali pemotongan tahun ini.
YEN TETAP TERPURUK
Bagaimana dengan yen Jepang? Mata uang ini masih terperosok, melemah 0,16% terhadap dolar AS ke level 156,91. Kenaikan kurang dari 1% di tahun 2025 jelas tak cukup. Nilainya masih berkutat di sekitar level terendah 10 bulan, yaitu 157,89, yang sempat dicapai November lalu. Level ini membuat was-was para pembuat kebijakan dan memicu spekulasi bakal ada intervensi dari Bank Sentral Jepang (BOJ).
BOJ sudah dua kali menaikkan suku bunga tahun lalu. Tapi langkah itu nyaris tak membantu. Investor rupanya menginginkan langkah yang lebih agresif. Menurut data LSEG, pasar bahkan hanya memberi probabilitas di bawah 50% untuk kenaikan suku bunga BOJ berikutnya sebelum bulan Juli.
Jadi, awal 2026 ini diwarnai oleh dolar yang berusaha bangkit, ketidakpastian kebijakan, dan mata uang seperti yen yang masih terjebak dalam tekanan. Semuanya menunggu petunjuk dari data dan keputusan politik di Washington.
Artikel Terkait
Pasar Saham AS Lesu Usai Libur, Investor Awasi Data Ekonomi
Bukalapak Simpan Rp 4,3 Triliun Dana IPO di Deposito dan Obligasi Negara
Bea Cukai Banten Resmikan NICE PIK 2 Sebagai Tempat Pameran Berikat
DSSA Rencanakan Stock Split 1:25 untuk Turunkan Harga Saham