Pemicunya, aksi beli kembali oleh investor setelah mereka melakukan ambil untung di penghujung 2025.
Andry juga menyoroti kondisi dalam negeri. Memang, Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur sempat melandai ke 51,2 pada Desember lalu. Namun begitu, angka itu tetap berada di zona ekspansi. Artinya, aktivitas industri masih tumbuh, dengan permintaan domestik sebagai penyangga utama.
Aliran dana pun memberi angin segar. Investor asing tercatat memasukkan dana bersih sekitar Rp1,1 triliun ke pasar saham. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun turun ke 6,05 persen. Penurunan yield ini, bagi Andry, mencerminkan satu hal: kepercayaan terhadap stabilitas makro Indonesia yang semakin meningkat.
Jadi, dengan kombinasi semua faktor itu pasar saham yang menguat, dana asing yang masuk, dan yield obligasi yang turun Indonesia dinilai memulai 2026 dari posisi yang kuat. Bukan cuma kuat, tapi juga berkelanjutan.
"Dukungan kebijakan yang kredibel, permintaan domestik yang solid, dan valuasi pasar yang masih atraktif," pungkas Andry, "membuat Indonesia semakin dipandang sebagai tujuan investasi utama di Asia Tenggara."
Ini bukan reli jangka pendek. Tampaknya, kita sedang menyaksikan fase penguatan yang lebih dalam.
Artikel Terkait
Analis Prediksi Harga Minyak Bisa Tembus US$116 per Barel Pekan Depan
OPEC+ Naikkan Kuota Produksi, Namun Gangguan di Selat Hormuz Hambat Realisasi
Indonesia dan Korea Selatan Sepakati Kerja Sama Jasa Instalasi Perairan untuk Ekspansi Migas
Analis Proyeksi Harga Minyak Bisa Tembus USD116 per Barel Pekan Depan