Gerimis tipis masih turun, tapi Uyu (56 tahun) tetap saja mengayuh sepedanya. Di keranjang, bertumpuk minuman dan kopi kemasan. Sudah 13 tahun lelaki asal Tasikmalaya ini menjalani rutinitas yang sama: berkeliling jadi pedagang kopi starling.
Dari Menteng yang elite, menyusuri Sudirman, hingga ke sekitar Stasiun Dukuh Atas, itulah jalur hariannya. Pelanggannya beragam.
“Kadang sopir taksi, banyak juga satpam. Tukang kebun juga. Kalau lagi ada proyek bangunan, ya orang-orang proyek itu yang beli,” cerita Uyu, saat kami bertemu di kawasan Menteng.
Ia biasanya mulai jalan sekitar setengah tujuh pagi. Kalau lagi ramai, bisa dapat seratus ribu sehari. Tapi hari-hari hujan begini, ya terpaksa pasrah. Penghasilan bisa jauh menciut.
“Ya namanya dagang,” tambahnya sambil menghela napas. “Kadang kurang, kadang lebih. Nggak tentu.”
Memang, pilihannya tak banyak. Alasan itulah yang membuatnya bertahan. Selagi tenaga masih ada, ia akan terus mengayuh. Opsi lain? Cuma satu: pulang kampung dan jadi petani.
“Nanti kalau udah nggak kuat, paling pulang. Ngarit, atau nanam di sawah,” ucapnya.
Artikel Terkait
PNM Pacu Layanan Berbasis Empati, Fokus pada Pengalaman Nasabah di 2026
Dolar AS Bangkit di Awal 2026, Pasar Menanti Data dan Arah Baru The Fed
Bulog Usul Satu Harga Beras Rp 11.000, Tapi Minta Fee Naik Dulu
Wall Street Menanti Data Tenaga Kerja: Penentu Arah Suku Bunga The Fed di 2026