PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk, atau PACK, punya rencana besar. Perusahaan ini bakal menggelar rights issue, istilah resminya Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) I. Lewat skema ini, mereka menawarkan Obligasi Wajib Konversi (OWK) yang jumlahnya fantastis: 32,58 miliar unit.
Setiap obligasinya punya nilai nominal cuma Rp10. Tapi, harganya buat dibeli pemegang saham ditetapkan Rp100 per unit. Kalau semua laku, potensi dana yang bisa digalang mencapai Rp3,25 triliun. Dana segitu tentu buat keperluan yang serius.
Nah, menurut keterbukaan informasi yang dirilis Jumat lalu, hak belinya diatur begini. Pemegang 5 saham lama yang tercatat per 13 Januari 2026 nanti, berhak dapat 102 HMETD. Satu HMETD itu memberi hak beli satu OWK. Dan uangnya harus disetor penuh pas pesan.
Di sisi lain, pemegang saham pengendali, PT Eco Energi Perkasa (EEP), sudah menyatakan komitmen. Mereka yang pegang 47,16% saham PACK ini bakal ambil seluruh haknya. Artinya, EEP berhak atas sekitar 15,37 miliar HMETD dan siap membeli OWK sesuai porsi kepemilikan itu.
Lalu, bagaimana kalau nanti OWK-nya tidak laku semua?
Sisa yang tak terserap akan dialokasikan ke pemegang saham lain yang pesannya melebihi jatah. Tapi, EEP juga siap jadi penyelamat. Mereka berkomitmen sebagai pembeli siaga untuk menyedot sisa OWK hingga 12,9 miliar unit, atau senilai Rp1,29 triliun. Dana segitu, sekitar USD 77 juta, konon bakal dipakai khusus untuk urusan pelunasan kewajiban.
Lantas, uang triliunan rupiah itu mau dipakai buat apa? Mayoritasnya, sekitar 86,93% atau setara Rp2,83 triliun, bakal disalurkan ke dua entitas anak perusahaan: APR dan SCR. Tujuannya jelas, untuk membayar pembelian saham di KS dan KKU.
Mekanismenya melalui campuran penyertaan modal dan pinjaman. Sekitar 30% disetor sebagai modal, sedangkan 70%-nya diberikan sebagai pinjaman dari induk ke anak perusahaannya. Proses pelunasannya baru akan dilakukan setelah dana dari rights issue ini cair ke kas PACK.
Menurut sejumlah analis, langkah ini diharapkan bisa menguatkan struktur modal grup sekaligus membereskan kewajiban strategis yang terkait ekspansi usaha mereka.
Sementara itu, sisa dana sekitar 13% kurang lebih Rp424 miliar disiapkan untuk modal kerja perusahaan induk. Biaya operasional holding company akan ditanggung dari sini. Mulai dari gaji manajemen dan karyawan, sewa kantor, beli perlengkapan, sampai bayar jasa profesional macam audit, pajak, dan konsultan.
Jadi, rights issue besar-besaran ini bukan sekadar cari dana segar. Tapi lebih pada upaya restrukturisasi dan penguatan pondasi bisnis grup PACK ke depan. Kita lihat saja nanti respons pasar.
Artikel Terkait
BEI Hentikan Perdagangan 50 Emiten Akibat Tunggakan Biaya Pencatatan
LRT Jabodebek Izinkan Penumpang Berbuka Puasa di Kereta dan Stasiun
Enam Calon Emiten Tunda IPO, Tunggu Kejelasan Regulasi BEI
Direktur ITSEC Asia Meninggal Dunia, Perusahaan Siapkan RUPS untuk Suksesi