Pemilik Usaha Jepang Desak Pemerintah Atasi Pelemahan Yen yang Kian Membebani

- Jumat, 02 Januari 2026 | 06:15 WIB
Pemilik Usaha Jepang Desak Pemerintah Atasi Pelemahan Yen yang Kian Membebani

Dua kelompok lobi bisnis terkemuka di Jepang akhirnya angkat bicara. Mereka mendesak pemerintah agar segera bertindak menangani pelemahan yen yang terus berlanjut. Soalnya, kondisi ini dinilai sudah mulai membebani banyak pihak, dari rumah tangga biasa hingga pelaku usaha.

Desakan itu disuarakan langsung oleh para pimpinannya dalam beberapa wawancara dengan media lokal. Tekanan pada yen, yang sempat dianggap menguntungkan eksportir, kini menunjukkan sisi lain yang lebih suram.

Yoshinobu Tsutsui, Ketua Keidanren kelompok lobi terbesar di sana mengakui bahwa yen lemah memang bisa mendongkrak keuntungan perusahaan pengekspor. Tapi dia punya pandangan yang lebih jauh ke depan.

"Namun, dari perspektif kekuatan nasional, dalam jangka panjang akan lebih baik jika dilakukan penyesuaian menuju nilai tukar yen yang lebih kuat," ujar Tsutsui.

Artinya, keuntungan jangka pendek bagi segelintir perusahaan mungkin tak sebanding dengan risiko yang ditanggung perekonomian secara keseluruhan.

Di sisi lain, kekhawatiran serupa datang dari Ken Kobayashi, Ketua Kamar Dagang dan Industri Jepang. Dalam wawancara terpisah, Kobayashi menyoroti dampak langsung yang dirasakan tulang punggung ekonomi Jepang: usaha kecil dan menengah (UKM).

Biaya untuk mengimpor bahan baku terus melambung tinggi. Bagi UKM yang ketergantungannya besar pada pasokan dari luar negeri, situasi ini sungguh memberatkan. Profit mereka tergerus, daya tahan bisnis pun diuji.

Dia menambahkan, pelemahan yen menjadi salah satu faktor utama pendorong inflasi. Karena itu, pemerintah dan Bank of Japan perlu menumbuhkan kembali kepercayaan pelaku usaha kecil yang selama ini tertekan akibat ketergantungan pada impor bahan baku.

Jadi, intinya jelas. Para pelaku bisnis besar ini sepakat: yen yang terlalu lemah justru jadi masalah. Mereka menunggu langkah konkret dari otoritas untuk mengembalikan stabilitas sebelum dampaknya makin dalam dan sulit diatasi.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar