Ekspor Perhiasan Indonesia Melonjak 41,8%, Tembus Rp 130 Triliun di Tengah Guncangan Harga Emas Global

- Rabu, 31 Desember 2025 | 20:36 WIB
Ekspor Perhiasan Indonesia Melonjak 41,8%, Tembus Rp 130 Triliun di Tengah Guncangan Harga Emas Global

Geliat industri perhiasan dalam negeri ternyata tak surut oleh tingginya harga logam mulia global. Malah, sebaliknya. Data terkini dari Kementerian Perindustrian menunjukkan nilai ekspor barang perhiasan dan berharga tembus angka fantastis: USD 7,8 miliar atau setara Rp 130,1 triliun sepanjang 2025. Angka ini melesat jauh, naik 41,81% dibanding periode sama tahun sebelumnya.

Reni Yanita, Dirjen Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kemenperin, melihat fenomena ini punya kaitan erat dengan tren global. Menurutnya, harga bahan baku emas dan perak yang melambung justru ikut mendongkrak nilai jual produk ekspor. Tapi itu bukan satu-satunya faktor.

"Kenaikan harga emas (perhiasan) ini memang terjadi. Tapi karena bahan bakunya lokal, kemudian kita juga sudah punya bullion bank, sehingga ini meningkatkan ekspor kita,"

ujar Reni dalam paparan capaian industri manufaktur akhir tahun lalu.

Swiss, Hong Kong, India, Uni Emirat Arab, dan Yordania jadi pasar utama yang menyerap produk-produk kilauan dari Indonesia ini. Di tengah kondisi itu, industri perhiasan masih tumbuh 9,55% pada kuartal III 2025, menyumbang sekitar 0,12% terhadap PDB nasional. Yang menarik, meski ekspor membesar, tingkat utilisasi pabrik-pabrik perhiasan baru sekitar 60%. Artinya, masih banyak ruang untuk berproduksi lebih giat lagi.

Lalu, bagaimana pelaku industri menyiasati harga bahan baku yang mahal? Rupanya ada beberapa trik. Reni menjelaskan, selain membeli bahan baku lebih awal untuk mengamankan harga, banyak pengrajin yang kini beralih membuat perhiasan dengan kadar emas lebih rendah.

"Ini disiasati dengan membuat perhiasan emas dengan kadar yang lebih rendah lagi, supaya konsumennya bisa beli emas dengan harga yang lebih murah,"

jelasnya. Strategi ini diharap bisa menjaga daya beli di pasar domestik.

Memang, guncangan di pasar komoditas global luar biasa. Harga emas spot sempat menembus level USD 4.530 per troy ounce, suatu rekor sejarah. Perak tak kalah panas, meroket hingga tembus USD 75 per troy ounce untuk pertama kalinya. Sepanjang tahun, emas telah naik sekitar 70%, sementara perak melesat lebih dari 150% kinerja terbaik dalam beberapa dekade terakhir.

Jadi, di balik angka-angka yang tinggi itu, industri perhiasan lokal ternyata cukup lincah beradaptasi. Mereka tak hanya mengandalkan momentum pasar global, tetapi juga berusaha tetap relevan bagi kantong konsumen.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar