Dampaknya terasa nyata. Indari nggak cuma dapat pelatihan atau bantuan mengkurasi produk. Dia juga mendapat akses ke promosi yang lebih terarah dan kesempatan ikut pameran. Untuk urusan transaksi sehari-hari, dia mengandalkan BRImo dan QRIS BRI.
"Layanan digitalnya bikin pengelolaan keuangan usaha jadi praktis banget. Efisien, terutama pas lagi ikut bazar," ungkapnya.
Kini, La Suntu Tastio sudah punya sepuluh pekerja dan terus melebarkan sayapnya ke pasar nasional. Kekuatan produknya bukan cuma pada desainnya yang apik, tapi juga pada nilai budaya yang tersirat di setiap helai tenun yang digunakan.
Cerita kemajuan ini, tentu saja, nggak lepas dari peran Rumah BUMN. Programnya nggak sekadar memberi pelatihan teknis, tapi juga menciptakan ekosistem yang mendorong kolaborasi dan inovasi.
Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya, melihat kesuksesan La Suntu Tastio sebagai cerminan dari kerja nyata.
Dia bilang, ini contoh konkret transformasi UMKM ketika mereka mendapat akses pemberdayaan yang relevan dan tepat sasaran, termasuk dukungan layanan digital.
"Rumah BUMN itu bukan cuma tempat pelatihan biasa. Ia adalah simpul pemberdayaan jangka panjang yang dirancang untuk mencetak UMKM tangguh dan punya daya saing. Ke depannya, BRI akan terus memperkuat infrastruktur ini agar makin banyak UMKM di Indonesia yang bisa naik kelas," jelas Akhmad.
Artikel Terkait
Laba Bersih Matahari Department Store Anjlok 12,4% di Tahun Buku 2025
Laba Bersih Hermina (HEAL) Anjlok 20% Meski Pendapatan Naik
Bapanas Klaim Stok Pangan Nasional Kuat Hadapi Ancaman Godzilla El Nino 2026
Laba Bersih Tjiwi Kimia Turun 7,2% di 2025 Meski Penjualan Stabil